Sunday, June 17, 2018

Perjuangan Suami Demi Kesembuhan Istrinya

Diceritakan bahwa salah seorang penduduk Teheran memiliki istri yang sakit, dan keadaannya semakin memburuk. 

Dia sudah mengajak istrinya keberapa tempat untuk berobat, tapi pulang tanpa hasil. 

Si suami berkata kepada istri: 

"Jalan keluar kita tinggal 1, yaitu datang ke tabib yang tidak menolak pasien."

Istri bertanya: "Siapa tabib itu..?"

Dia menjawab:

"Beliau disini. Disini, di tanah Khurasan, ada Tabib yang penuh kasih sayang, tidak pernah menolak orang yang punya hajat.

Istri mengatakan: 

"Kalau begitu, pergilah..! 
Dan Allah maha mendengar."

Maka si suami pergi, meminta izin masuk haram Imam Ridho as dan berkata: 

"Sayyidii.., istriku masih sakit dan anda tahu keadaannya. 

Aku datang kepada anda karena aku tahu anda tidak pernah menolak orang-orang yang membutuhkan. 

Bukankah anda adalah Ahlul Bayt Nabi dan anda juga manusia yang dermawan & mulia.

Laki-laki tersebut menangis sebentar, keluar dari makam Imam kemudian menelfon ke Teheran untuk menanyakan keadaan istrinya. 

Dijawab bahwa keadaan istrinya belum berubah, masih sama.

Dia masuk untuk ke 2 kalinya, minta izin kepada Imam Ridho as dan berkata: 

"Sayyidii, Yaa Ali bin Musa Ar-Ridho as, 

Wahai imam yang terasing...

Aku memiliki hajat, istriku sakit dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil, apakah anda akan menolakku sehingga aku kecewa..?"

Kemudian dia keluar & menelfon lagi. 

Ternyata keadaan istrinya masih tetap sama.

Dikesempatan ziarah terakhir, dimana telah tiba waktunya untuk pulang ke Teheran, dia berziarah untuk perpisahan dengan Imam dan berkata: 

"Sayyidii..,aku akan pulang ke rumahku. Aku telah datang kepada anda untuk suatu hajat tapi anda tidak memenuhinya. 

Tapi Sayyidii, maaf, aku akan tidak sopan kepada anda sebelum kepergianku."

Maka dia berkata (kepada Imam as): 

"Jika anda tidak menyembuhkan istriku, maka aku akan pergi ke Baqi' dan mengadukan anda kepada Ibu anda Sayidah Fathimah as.."

Laki-laki itu keluar dari haram & pulang ke rumahnya. 

Dia sampai ke Teheran di malam yang sudah larut. 

Dia tahu istrinya sakit, tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, sedang anak-anaknya masih kecil, maka siapa yang akan membukakan pintu untuknya...

Dia mengetuk pintu, ternyata istrinya yang membukakan pintu untuknya, dan dia sudah mampu berdiri. 

Maka laki-laki itu menangis dan bertanya:

"Apa yang telah terjadi..? 

Bagaimana kau bisa berdiri & bangkit dari tempat tidurmu..?" 
Istrinya bercerita : 

Saat itu aku masih tidur tiba-tiba seseorang yang memancarkan sinar memanggilku & berkata : 

"Wahai fulanah.. 
Bangunlah, Allah SWT telah berkehendak memberimu kesembuhan." 

Aku menjawab bahwa aku masih sakit, beliau berkata : 

"Kami Ahlul Bayt, tidak menolak orang yang meminta." 

Maka aku berdiri, seakan-akan aku tak pernah sakit, aku berjalan dibelakangnya untuk mengantarnya sampai pintu, 

Ketika kami telah sampai pintu, beliau menunduk memandang kearah tanah & berkata : 

"Jika suamimu pulang, katakan padanya jangan mengadukanku pada ibuku Sayyidah Zahra as. 

Karena ibuku sendiri sakitnya banyak & kesedihannya sangat dalam."

Tuesday, March 20, 2018

Jangan Tuduh Aku Syiah

Betapa agungnya ketika orang akhirnya melihatku sebagai syiah. 
Tapi begitu kecilnya, ketika diri mengetahui bahwa aku bukanlah seorang syiah.

Karena Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Wahai orang-orang Syi’ah, jadilah hiasan bagi kami dan jangan menjadi noda untuk kami, berbicaralah santun kepada masyarakat, 
jagalah lidah kalian, dan hindarilah campur tangan dalam urusan orang lain dan perkataan yang buruk..”

Aku sungguh belum sanggup mencapai hal itu. Dan jangan pernah bilang jika aku syiah, karena kata Imam Ja’far Ash-Shadiq As lagi : 

*“Syi’ah kami adalah warak dan pekerja, mereka adalah orang-orang yang percaya dan terpercaya, ahli zuhud dan ibadah, se-nantiasa menunaikan lima puluh satu rakaat shalat sehari semalam, orang-orang yang terjaga di malam hari dan berpuasa di siang hari. Mereka menunaikan ibadah haji ke Baitul Haram dan menjaga diri dari segala yang haram”.*

Sungguh, aku tidak akan mampu mendekati dari kriteria yang ada. 

Aku sangat sedih ketika aku dituding syiah, karena kata Imam Jafar as lagi :

*“Demi Allah, Syi’ah Ali as. tidak lain adalah orang yang suci perut dan kemaluannya, orang yang beramal hanya untuk Penciptanya, dan mengharapkan pahala-Nya serta takut akan siksa-Nya”.*

Aku hanya mampu melihat dari luar, karena aku tahu sangat banyak yang harus aku perbaiki dalam diriku. 

Karena itu jangan pernah tuduh aku sebagai syiah, sebab beliau berkata lagi : 

“Wahai Syi’ah keluarga Muhammad saw.! *Sesungguhnya bukanlah dari kami orang yang tidak menguasai dirinya pada saat marah, tidak berkata sopan pada orang yang berbicara dengannya, tidak menjaga persahabatannya dengan orang yang ber-samanya, dan tidak memegang janji perdamaian dengan orang yang mengajaknya berdamai”.*

Semakin faham betapa berat menjadi Syiah, maka semakin kecil rasanya hatiku. Apalagi ketika kalian mengejekku sebagai syiah. 

Sungguh malu diriku rasanya ketika Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata :

*“Ujilah Syi’ah kami di waktu shalat;*
bagaimana mereka menjaga waktu-
waktu-nya? Dan bagaimana mereka
menjaga rahasia kami dari musuh-musuh kita?”.

Betapa aku merasa jauh dari semua kriteria syiah. Aku bukanlah syiah. Aku hanya mencoba patuh pada Imamku dan berusaha yang terbaik supaya hidupku menjadi lebih baik.

“Sampaikanlah salam kepada siapa saja dari mereka yang kamu pandang patuh padaku dan mendengarkan kata-kataku, wasiatkanlah pada mereka takwa kepada Allah swt, warak dalam beragama, usaha keras demi Allah, jujur dalam berbicara, menjalankan amanat, lama dalam sujud dan baik dalam bertetangga, karena Nabi saw. datang dengan membawa ajaran-ajaran tersebut. 

Laksanakanlah amanat kalian secara penuh untuk orang yang mempercayakanmu agar menjaganya, baik dia orang yang saleh maupun orang yang jahat, karena Nabi saw. senantiasa menganjurkan masyarakat agar menyelesaikan kontrak yang telah disepakati bersama.

Jagalah silaturahmimu dengan keluarga, hadirilah jenazah mereka, jenguklah mereka yang sakit, penuhilah hak-hak mereka, karena orang yang warak dalam beragama, jujur dalam bertutur kata, setia dalam amanat dan berbudi pekerti kepada masyarakat, niscaya orang lain akan menyebutnya sebagai Ja’fari (pengikut Imam Ja’far Ash-Shadiq as.), 

Dengan begitu dia telah menggembirakanku dan membuat hatiku senang...." 

Sungguh, aku bukan syiah.. 
Sedikitpun tidak akan menyamai...

Monday, March 19, 2018

Kisah Pembuktian Rokok Tidak Berbahaya

Apakah Rokok Berbahaya?

Banyak orang mengkhawatirkan Bahaya Rokok..!!!
Tapi setelah diselidiki oleh beberapa Pakar dalam bidangnya ternyata Rokok itu sama sekali Tidak Berbahaya..!!!

Ada sebuah ​The Untold Story​ yang membuka Mata Dunia bahwa Rokok itu tidak berBahaya sama sekali.

Berikut Cuplikan nya :

Ada tiga orang pakar. Mereka selalu bersama ke mana saja. 
Tapi ketiganya memiliki kesukaan beda.

1). ​Si A​ : suka main perempuan.
2). ​Si B​ : suka minum minuman keras.
3). ​Si C​ : suka segala jenis rokok.

Suatu hari mereka pergi ke seorang profesor. Mereka ingin membuktikan mana yg lebih berbahaya, apakah 'main' perempuan, minuman keras atau rokok ?
Lalu untuk membuktikannya, mereka masing2 minta dikurung di sebuah gua selama 100 hari...

Si A :  ”Aku mau Perempuan² Muda dari berbagai Bangsa dan makanan minuman yang cukup,..  
Letakkan dalam gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 100 hari … 
Dan profesor itu pun mengabulkannya.

Si B :  “Aku mau semua jenis Arak dari Seluruh Dunia dan bekal makanan yang cukup, ..
Letakkan dalam gua
tertutup dan jangan ganggu aku selama 100 hari, …
Lalu profesor itu pun memenuhi keinginan si B.

Si C :  ”Aku mau semua Jenis Rokok dari Seluruh Dunia dan makanan yang cukup,..
Letakkan dalam gua
tertutup dan jangan ganggu aku selama 100 hari,…
Dan sama, keinginan si C pun dikabulkan si profesor...

100 hari Kemudian, si profesor membuka pintu gua masing² sesuai perjanjian.

Ketika pintu Gua dibuka, keluarlah si A, Kurus Kering, berdiri pun tidak bisa karena lutut pada goyang hampir lepas,..
Sebab hari-harinya dihabiskan hanya
memuaskan nafsu dengan perempuan.
Beberapa saat kmudian si A pun jatuh ke tanah lalu mati...

Pintu Gua II dibuka, maka keluarlah si B, Perut Buncit dan Mata Merah karena hari2nya dihabiskan dengan mabuk²an,... 
Dia terhuyung2 & jatuh ke tanah lalu mati..

Pintu III dibuka, keluarlah si C, Sehat Wa-alfiat bahkan
lebih sehat dr 100 hari yang lalu, .. 
Dia berjalan Tegap ke
arah profesor itu dan langsung menabok kepala sang profesor seraya berkata :
“Dasar profesor GUOBLLOOOKK..!!! KOREKNYA MANA..???”

Kesimpulan :
​ROKOK TIDAK BERBAHAYA BAGI KESEHATAN SELAMA​
​TIDAK ADA KOREK API NYA..!!!​

Sunday, March 18, 2018

Memperoleh Haji Mabrur Meski Tak Ke Mekkah


Ullama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun men ceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika
laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”
"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?
Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun
menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.


Friday, March 16, 2018

Fathimah Az-Zahra Lambang Kesucian Dan Kemuliaan

Dalam beberapa sumber telah dijelaskan bahwa nama Fathimah merupakan nama yang sangat disukai oleh para Ma'sumin (Ahlul Bait) as. Imam Shadiq as bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali as, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)” (Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 10).

Para Imam Ahlul Bait as sangat memuliakan pemilik nama Fathimah tersebut. Salah satu pengikut Imam Ja'far as-Shadiq as telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya ?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam as bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah maka berhati-hatilah. Jangan sampai engkau memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”

Wanita mulia nan agung yang menjadi kekasih Allah dan Rasul-Nya itu bernama Fathimah. Keagungannya telah dinyatakan oleh manusia termulia dan makhluk Allah teragung, Muhammad saw yang segala pernyataannya tidak mungkin salah. Pada kesempatan ini, kita akan melihat beberapa sebutan mulia bagi wanita agung tersebut, disamping banyak nama dan sebutan lagi yang disematkan pada pribadi kekasih Allah dan Rasul-Nya itu. Di antaranya ialah;

Syaikh Shaduq dalam kitab “I’lall Asy-Syara’i” dan Allamah Al-Majlisi dalam kitab “Bihar Al-Anwar” telah menukil riwayat dari Imam Ja'far bin Muhammad As-Shadiq as, bahwasanya beliau bersabda: “Sewaktu Sayyidah Fathimah Az-Zahra as terlahir, Allah swt memerintahkan para Malaikat untuk turun ke bumi dan memberitahukan nama ini kepada Rasulullah. Maka Rasulullah saw pun memberi nama Fathimah kepadanya.” (Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 13)

Imam Ali bin Musa Ar-Ridho as telah meriwayatkan hadis dari ayahnya, dimana ayahnya telah meriwayatkan dari para datuknya hingga sampai ke Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda: “Wahai Fathimah, tahukah engkau kenapa dinamakan Fathimah ?”. Kemudian Imam Ali as bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab, “Karena ia dan pengikutnya akan tercegah dari Api Neraka”. (Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 14). Atau dalam riwayat lain beliau bersabda: “Karena terlarang Api Neraka baginya dan para pecintanya”.(Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 15)

Imam Ali bin Abi Thalib as bersabda, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Ia dinamakan Fathimah karena Allah akan menyingkirkan Api Neraka darinya dan dari keturunannya. Yakni keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku (Rasulullah saw).” (Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 18-19)

Zahra artinya ialah “yang bersinar” atau “yang memancarkan cahaya”. Imam Hasan bin Ali Al-Askari (Imam ke-11) bersabda: “Salah satu sebab Sayyidah Fathimah dinamai Az-Zahra karena 3 kali pada setiap hari beliau akan memancarkan cahaya bagi Imam Ali as.” (Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 11) Memancarkan cahaya bagaikan matahari pada waktu pagi, siang dan terbenam matahari.

Dalam riwayat lain Imam Shadiq as bersabda: “Sebab Sayyidah Fathimah dinamakan Zahra karena akan diberikan kepada beliau sebuah bangunan di Surga yang terbuat dari Yaqut merah. Dikarenakan kemegahan dan keagungan bangunan tersebut maka para penghuni Surga melihatnya seakan sebuah bintang di langit yang memancarkan cahaya, dan mereka satu sama lain saling mengatakan bahwa bangunan megah bercahaya itu dikhususkan untuk Fathimah as.”

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa, orang-orang telah bertanya kepada Imam Shadiq as: “Kenapa Fathimah as dinamakan Zahra ?” Beliau menjawab: “Karena sewaktu beliau berada di mihrab (untuk beribadah) cahaya memancar darinya untuk para penghuni langit, bagaikan pancaran cahaya bagi para penghuni bumi.” (Namha wa Alqaab Hadzrate Fathimah Zahra halaman: 22).

Panggilan kesayangan bagi Sayyidah Fathimah adalah Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dia adalah puteri yang mulia dari pemimpin para Makhluk, Rasulullah saw, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim. Fatimah as memperlakukan Rasul saw lebih dari perlakuan seorang ibu terhadap anaknya, sebagaimana Rasul saw mencintai dan menghormati Az-Zahra’ lebih dari penghormatan seorang anak terhadap ibunya. Sirah Nabawi mengingatkan kita akan sikap Rasul saw saat ditemui Az-Zahra’. Beliau berdiri menyambut, menyalami, mencium, dan mendudukkannya di sisi beliau, serta menemaninya dengan seluruh jiwa.

Ketika Nabi saw terluka dalam Perang Uhud, Sayyidah Fathimah keluar dari Madinah menyambutnya dan menghampiri ayahnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fathimah langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air dan membasuh wajahnya.

Muhaddatsah, artinya ialah “orang yang Malaikat berbicara dengannya”. Telah dijelaskan bahwasanya para Malaikat dapat berbicara dengan selain para Nabi atau para Rasul. Dan orang-orang selain para Nabi dan Rasul itu dapat mendengar suara dan melihat para Malaikat. Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah telah menjelaskan bahwasanya Maryam binti Imran as (ibunda Nabi Isa Al Masih as) telah melihat Malaikat dan berbicara dengannya. Hal ini telah disinyalir dalam surah Ali-Imran ayat 42, “Dan (Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (di zamannya).”

Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as bersabda: “Fathimah dijuluki Muhaddatsah karena para Malaikat selalu turun kepadanya, sebagaimana mereka memanggil Maryam as, berbicara dengannya, dan mereka mengatakan: “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah swt telah memilihmu, mensucikanmu dan memilihmu atas perempuan seluruh alam”. Para Malaikatpun menyampaikan kepada Fathimah Az-Zahra as tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, raja-raja yang akan berkuasa, dan hukum-hukum Allah swt. Fathimah Az-Zahra as meminta kepada Imam Ali as untuk menulis semua perkara yang telah disampaikan para Malaikat kepadanya. Serta jadilah kumpulan tulisan tersebut dinamakan dengan Mushaf Fathimah”. (Bihar Al-Anwar jilid 43)

Imam Shadiq as telah berkata kepada Abu Bashir: “Mushaf Fathimah berada pada kami (Para Ma'sumin / Imam Ahlul Bait as).….Mushaf tersebut berisikan hal-hal yang telah diwahyukan Allah kepada ibu kami, Fathimah Az-Zahra as.” (Bihar Al-Anwar jilid 43, Fathimah Az-Wiladat to Syahadat halaman 111)

Mardiyah, artinya ialah “orang yang segala perkataan dan perilakunya telah diridhoi Allah swt”. Adapun sebab beliau dijuluki dengan julukan Mardiyah karena bersumber pada beberapa hadis yang telah disampaikan Rasulullah saw berkaitan dengan kedudukan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as, dimana beliau saw telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah swt murka atas murka-mu dan ridho atas keridhoan-mu.” (Riwayat dengan kandungan seperti ini bisa didapati pada beberapa sumber seperti, Mustadrak Ash-Shahihain jilid 3 halaman 153, Kanzul Ummal jilid 6 halaman 219, Mizan Al-I’tidal jilid 2 halaman 72, Dzakhairu Al-‘Uqba halaman 39).

Sabda-sabda Rasulullah saw tentang Sayyidah Fathimah Zahra as itu disampaikan beliau saw bukanlah berasal dari hawa nafsu dan atas dasar nepotisme seorang ayah terhadap anaknya. Karena sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa beliau saw tidak mengatakan sesuatu berdasarkan hawa nafsu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an: “ Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (QS An-Najm:3). Maka hadis-hadis itu sebagai bukti akan keistimewaan Fathimah Az-Zahra as dimata Allah dan Rasul-Nya.

Shiddiqah, artinya ialah “seorang yang sangat jujur”, orang yang tidak pernah berbohong. Atau orang yang perkataannya membenarkan perilakunya. (Lisanul Arab dan Taajul Aruus)
Pada waktu menjelang wafat Rasulullah saw, beliau saw berkata kepada Ali as: “Aku telah menyampaikan berbagai masalah kepada Fathimah. Benarkan (percayailah) segala yang disampaikan Fathimah, karena ia sangat jujur.” (Bihar Al-Anwar jilid 22 halaman 490)

Dalam sebuah hadis bahwasanya Ummul Mu'minin Aisyah berkata: “Tidak aku dapatkan seseorang yang lebih jujur dari Fathimah, selain ayahnya.” (Hilyatul Auliya’ jilid 2 halaman 41 dan Mustadrak As-Shahihain jilid 3 halaman 16). Dan kedudukan ini (Shiddiqiin) berada pada tingkatan para Nabi, Syuhada dan Sholihin sebagaimana yang telah disinyalir Al-Qur’an: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para Shiddiiqiin, para Syuhada, dan orang-orang Soleh, dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa : 6)

Rasulullah saw berkata kepada Imam Ali as: “3 hal berharga telah dihadiahkan kepadamu, dan tidak seorangpun yang mendapatkannya termasuk aku; Engkau memiliki mertua seorang Rasul (Nabi saw), sementara aku tidak memiliki mertua sepertimu. Engkau memiliki istri yang sangat jujur (Shiddiqqah) seperti putriku, sementara aku tidak memiliki istri sepertinya. Engkau dikaruniai anak-anak seperti Hasan dan Husein, sementara aku tidak dikaruniai anak-anak seperti mereka. Namun demikian engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.” (Ar-Riyadhu An-Nadrah jilid 2 halaman 202)

Dalam sebuah riwayat berkaitan dengan putrinya, Rasulullah saw bersabda: “Fathimah merupakan wewangianku. Ketika aku merindukan bau surga maka aku akan mencium Fathimah”. (Bihar Al-Anwar jilid 35 halaman 45, dan kandungan hadis semacam ini pun bisa didapati dalam Tafsir Ad-Durrul Mansur As-Suyuthi)

Ibnu Atsir dalam karyanya yang berjudul “An-Nihayah” menyatakan: “Kenapa Fathimah dijuluki Al-Bathul ? Karena beliau dari segi keutamaan, agama, dan kehormatan lebih dari para perempuan yang ada pada zamannya. Dan karena beliau telah memutuskan hubungannya dengan dunia dan hanyalah mencari kecintaan Allah.” (Hadis dengan redaksi semacam ini juga dapat kita jumpai pada kitab-kitab seperti; Maanil Akhbar hal 54, Ilalu Asy-Syarai’ hal 181, Yanaabi’ Al-Mawaddah hal 260)

Dalam kitab “Al-Manaqib” pada jilid 3 halaman 133 dijelaskan bahwa seseorang telah bertanya kepada Rasulullah; “Kenapa seseorang dijuluki Al-Bathul ? Beliau menjawab: “Yaitu perempuan yang tidak keluar darinya darah haid. Sesungguhnya hal itu tidak layak bagi putri para Nabi.” (Al-Manaqib jilid 3 halaman 133, Al-Awalim jilid 6 halaman 16)

Rasyidah, artinya ialah “wanita yang telah dianugerahi petunjuk”, selalu berada dalam kebenaran dan pemberi petunjuk bagi yang lain. Rasulullah saw telah memberikan julukan ini kepada putrinya, Fathimah as. Dalam sebuah riwayat telah dijelaskan bahwasanya Imam Ali as bersabda: “Beberapa saat sebelum kepergian Rasulullah (wafat), beliau telah memanggilku. Beliau bersabda kepadaku dan Fathimah: “Ini hanutku (Hanut adalah kapur barus yang dioleskan ke anggota sujud seorang jenazah) yang telah dibawakan Jibril dari surga untukku. Jibril telah menitip salam untuk kalian berdua dan berkata: “Engkau harus membagikan hanut ini, dan ambillah untukmu. Pada saat itu Fathimah as berkata: “1/3-nya untuk engkau wahai ayahku. Sedang sisanya, biarlah Ali sendiri yang memutuskannya”. Mendengar itu Rasulullah menangis dan memeluk putrinya seraya bersabda: “Engkau adalah wanita yang telah dianugerahi Taufiq (pertolongan khusus) dan Rasyidah (petunjuk) yang telah mendapatkan ilham dari-Nya, dan mendapatkan petunjuk dari-Nya. Pada saat itu pula Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, katakan padaku tentang sisa hanut tersebut”. Aku (Ali) berkata: “Setengah dari yang tersisa ialah untuk Zahra (Fathimah). Dan berkaitan dengan sebagian lainnya apa perintahmu, ya Rasulullah?”. Rasulullah saw bersabda: “Sisanya untukmu, maka peliharalah.” (Bihar Al-Anwar jilid 22 halaman 492)

Sebelum Rasul melakukan salah satu Mi’rajnya (dalam banyak riwayat dari jalur Ahlul Bait, disebutkan Rasulullah tidak melakukan Mi’raj sekali saja, bahkan berkali-kali), Atas perintah Allah swt, beliau tidak diperkenankan untuk menemui (mengumpuli) istrinya selama 40 hari. Dan pada hari terakhir beliau dalam Mi’raj-nya memakan buah-buahan seperti; Kurma dan Apel yang berasal dari Surga. Seusai beliau memakan buah-buahan yang berasal dari Surga itu lantas beliau menemui (mengumpuli) istrinya Sayyidah Khadijah as. Dan dari nutfah yang berasal dari buah-buahan Surga itulah, Sayyidah Khadijah as mengandung janin Sayyidah Fathimah Az-Zahra as. Oleh karena itu, Sayyidah Fathimah Az-Zahra as dijuluki ‘Haura Insiyah’ (Bidadari Berwujud Manusia). (Tafsir Furat Kufi halaman 119, Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 18, riwayat-riwayat semacam ini pun bisa didapati dalam sumber-sumber Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti; Ad-Durrul Mansur, Mustadrak Shahihain, Dzakhairu Al-Uqbah, Tarikh Baghdadi dsb).

Haura Insiyah, artinya ialah “Bidadari yang berwujud Manusia”, para wanita Surga dinamakan Bidadari karena putih dan hitam matanya sangat elok dan menarik sekali. Oleh karena itu, seorang wanita yang memiliki mata yang sangat elok seperti Bidadari, dijuluki bidadari. (Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 5)

Thahirah berarti yang “suci atau ma'sum dari dosa dan kesalahan”. Hal ini karena beliau telah disucikan dari salah dan dosa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 33, “… Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, Hai Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”

Menjelang wafatnya Rasul saw, Fatimah as berkata, “Alangkah beratnya, wahai ayah.” Nabi saw menjawab, “Tiada kesusahan atas ayahanda sesudah hari ini.” Pada saat Nabi saw wafat, Fatimah merasa amat sedih dan menangis sambil berkata, “Wahai ayahku, kepada Jibril kami sampaikan berita duka ini. Wahai ayahku, semoga Allah mengabulkan semua permintaan. Wahai ayahku, hanya surga Firdaus tempat yang layak.” Sejak masa itu, Fatimah menilai perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan melawan penyimpangan di tengah umat Islam sebagai kewajibannya.

Sunday, March 11, 2018

Ayat al-Wilayah


FirmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 55):"Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat dalam keadaaan rukuk."
Telah sepakat semua Ahlu l-Bait AS, para ulama Tafsir dan Hadith dari golongan Syi'ah dan kebanyakan para ulama tafsir Ahlu s-Sunnah, malah keseluruhan mereka bahawa ayat ini telah diturunkan pada Amiru l-Mukminin Ali AS, ketika beliau memberi sadqah cincinnya kepada si miskin di dalam keadaan beliau (Ali AS) sedang solat di Masjid Rasulullah SAWAW. Peristiwa ini telah diakui oleh para sahabat pada zaman Nabi SAWAW, para tabi'in dan penyair-penyair yang terdahulu sehingga mereka memasukkan peristiwa ini ke dalam syair-syair mereka.
Di sini diperturunkan kenyataan para ulama Ahlu s-Sunnah mengenai perkara tersebut seperti berikut:
Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur1 berkata: al-Khatib telah mengeluarkannya di dalam al-Muttafaq daripada Ibnu Abbas, dia berkata:'Ali AS telah menyedekahkan cincinnya dalam keadaan rukuk. Maka Nabi SAWAW bersabda: Siapakah yang memberikan kepada anda cincin ini? Lelaki ini menjawab: Lelaki yang sedang rukuk itu. Maka Allah SWT menurunkan ayat "Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat di dalam keadaan rukuk (Surah al-Maidah(5): 55).
Al-Tabrani telah menulisnya di dalam al-Ausat.2   Ibn Mardawaih daripada 'Ammar bin Yassir berkata: Seorang peminta sadqah berdiri di sisi Ali yang sedang rukuk di dalam sembahyang sunat. Lalu beliau mencabutkan cincinnya dan memberikannya kepada peminta tersebut. Kemudian dia memberitahukan Rasulullah SAWAW mengenainya. Lalu ayat tersebut diturunkan. Kemudian Nabi SAWAW membacakannya kepada para sahabatnya. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang memperwalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya, cintailah orang orang mencintainya, bencilah orang yang membencinya, tolonglah orang yang menolongnya, tinggallah orang yang meninggalkannya dan penuhilah kebenaran bersamanya di mana saja dia berada."
Begitu juga Abdu l-Razzaq, 'Abd b. Hamid, Ibn Jarir dan Abu Syaikh telah mengesahkan bahawa Ibn Mardawaih meriwayatkannya daripada Ibn Abbas, dia berkata: ayat "Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman.....(Surah al-Maidah (5):55) telah diturunkan ke atas 'Ali bin Abi Talib.
Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh Ibn Abi Hatim, Abu Syaikh dan Ibn 'Asakir daripada Salmah bin Kuhail. Dia berkata: Ali menyedekahkan cincinnya dalam keadaan rukuk. Kemudian ayat (Surah al-Ahzab (33): 33) diturunkan.
Begitu juga Ibn Jarir, daripada Sudi dan 'Atbah bin Hakim telah mengeluarkan hadith yang sama, sementara Abu Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan hadith ini daripada 'Ali bin Abi Talib. Dia berkata: Ayat (Surah al-Maidah (5):55) "Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman....." adalah diturunkan kepada Rasulullah SAWAW di rumahnya. Lalu Rasulullah SAWAW keluar dari rumahnya dan memasuki masjid. Orang ramai bersembahyang di antara rujuk dan sujud, malah ada yang berdiri. Tiba-tiba datang seorang peminta sadqah, adakah seseorang telah memberikan kepada anda sesuatu? Dia menjawab: Tidak, selain daripada lelaki yang sedang rukuk iaitu 'Ali bin Abi Talib telah memberikan cincinnya kepadaku.
Ibn Mardawaih telah mengeluarkan hadith ini melalui al-Kalbi daripada Abi Salih daripada Ibn Abbas dia berkata: 'Abdullah bin Salam dan beberapa orang Ahlu l-Kitab datang kepada Nabi SAWAW di waktu zuhur. Mereka berkata: Sesungguhnya jarak rumah-rumah kami jauh sekali. Kami tidak dapati orang yang ingin duduk bersama kami dan bergaul dengan kami selain di masjid ini. Dan sesungguhnya kaum kami apabila mereka melihat kami telah membenarkan Allah dan RasulNya, dan meninggalkan agama mereka, lalu mereka melahirkan permusuhan mereka dan bersumpah supaya mereka tidak bergaul dengan kami, mereka tidak makan bersama-sama kami. Lantaran itu ianya menimbulkan kesulitan kepada kami. Dan di kalangan mereka ada yang merayu perkara itu kepada Rasulullah SAWAW. Dan kemudian ayat yang bermaksud: Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang yang beriman..[al-Maidah (5): 55] diturunkan. Kemudian azan diadakan bagi menunaikan solat Zuhr.
Kemudian Rasulullah SAWAW keluar ke masjid, tiba-tiba beliau melihat peminta sadqah lalu beliau bersabda: Adakah seseorang telah  memberikan anda sesuatu? Dia menjawab: Ya. Beliau bertanya: Siapa? Dia menjawab: Lelaki yang sedang berdiri itu. Beliau bertanya lagi: Di dalam keadaan manakah dia memberikannya kepada anda? Dia menjawab: Dalam keadaan rukuk. Beliau bersabda: Itulah 'Ali bin Abi Talib AS. Lalu Rasulullah SAWAW bertakbir dan di masa itu beliau membaca ayat al-Qur'an (Surah al-Maidah (5): 55):"Sesiapa yang mewalikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya parti Allah itulah yang pasti kemenangan."
Al-Kanji al-Syafi'i telah menyebutkannya di dalam Kifayah al-Talib3  daripada Anas bin Malik: Sesungguhnya ada seorang peminta sadqah di masjid bertanya: Siapakah yang akan memberikan sadqah kepadanya. 'Ali yang sedang rukuk memberikan isyarat kepadanya supaya mencabutkan cincin di tangannnya. Rasulullah SAWAW bersabda: Wahai 'Umar! Sesungguhnya telah wajib baginya ('Ali) syurga kerana Allah tidak mencabutkannya daripada tangannya sehingga Dia mencabutkan segala dosa dan kesalahan daripadanya. Dan ayat (Surah al-Maidah (5):55) diturunkan.
Kemudian penyair Hasan bin Tsabit memperkatakan syairnya:
Wahai Abu l-Hasan! Jiwa ragaku berkorban untukmu dan setiap pencinta petunjuk
Adakah akan sia-sia orang yang memujimu?
Orang yang memuji pada zat Allah tidak akan sesat

Kaulah yang telah memberi di dalam keadaan rukuk
seluruh jiwa ragaku berkorban untukmu
wahai sebaik-baik orang yang rukuk.

Di antara perawi-perawi yang menegaskan bahawa ayat ini telah diturunkan pada Amiru l-Mukminin Ali AS ialah Fakhruddin al-Razi di dalam tafsirnya.4  Dia telah meriwayatkannya daripada 'Ata' daripada Ibn Abbas bahawa sesungguhnya ayat ini diturunkan pada 'Ali bin Abi Talib AS. Dia meriwayatkan bahawa 'Abdullah bin Salam berkata: Manakala ayat ini diturunkan, aku bertanyakan Rasulullah SAWAW wahai Rasulullah SAWAW! Aku melihat Ali memberikan cincinnya kepada seorang yang memerlukannya di dalam keadaan rukuk, maka kamipun mewalikannya.
Dia juga meriwayatkan daripada Abu Dhar RH bahawa dia berkata: Pada suatu hari aku menunaikan solat Zuhr bersama Rasulullah SAWAW. Maka seorang peminta sadqah di masjid meminta (sesuatu), tidak seorangpun memperdulikannya. Lantas peminta itu mengangkat tangannya ke langit dan berkata: Wahai Tuhanku persaksikanlah sesungguhnya aku telah meminta di masjid Rasulullah SAWAW, tetapi tidak ada seorangpun yang memberi sesuatu kepadaku. Dan 'Ali AS pada ketika itu sedang rukuk lalu beliau memberikan isyarat kepadanya dengan anak jari tangan kanannya yang bercincin. Maka lelaki tadi datang mencabutnya dan ianya dilihat oleh Nabi SAWAW lalu beliau bersabda: Sesungguhnya saudaraku Musa telah meminta kepada Engkau dan berkata:(Surah Taha (20): 25): Wahai Tuhanku lapangkanlah untukku dadaku dan jadikanlah dia sekutu di dalam urusanku. Maka ayat (Surah al-Qasas (28): 35)"Kami akan membantumu dengan saudaramu dan kami berikan kamu berdua kekuasaan yang besar" diturunkan.
"Wahai Tuhanku, aku adalah Muhammad Nabi kalian dan pilihan kalian,  maka lapangkanlah dadaku dan permudahkanlah urusanku dan jadikanlah untukku seorang pembantuku (wazir) daripada keluargaku 'Ali dan perkukuhkanlah dengannya kekuatan." Abu Dhar berkata:"Demi Allah sebaik saja Rasulullah SAWAW selesai membaca doa itu, Jibra'il turun dan berkata: Wahai Muhammad "Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat, dan memberikan zakat di dalam keadaan rukuk (al-Maidah (5): 55).
Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Syablanji di dalam Nur al-Absar5  sanadnya sampai kepada Abu Dhar. Di antara orang-orang yang meriwayatkan hadith ini diturunkan pada Amiru l-Mukminin 'Ali AS ialah al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul,6   al-Zamakhsyari di dalam tafsirnya al-Kasysyaf 7  bahawa ayat ini diturunkan kepada 'Ali ketika peminta sadqah meminta kepada beliau di dalam keadaan rukuk di dalam solatnya, maka beliaupun mencampakkan cincinnya. Ibn Hajr al-Asqalani, di dalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf 8  ketika mengeluarkan hadith ini, dia berkata: Hadith ini telah diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan Salmah bin Kuhail dia berkata: 'Ali bersadqah dengan cincinnya dalam keadaan rukuk. Maka ayat "Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman" [al-Maidah (5): 55] diturunkan.
Hadith ini juga diriwayatkan daripada Ibn Mardawaih dan Sufyan al-Thauri daripada Ibn Sinan daripada al-Dhahak daripada Ibn 'Abbas, dia berkata:"Ali AS sedang menunaikan solat di dalam keadaan berdiri, tiba-tiba datang seorang peminta sadqah ketika 'Ali sedang rukuk. Maka beliaupun memberikan cincinnya kepada orang itu. Lalu ayat yang bermaksud:"Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya....."[al-Maidah (5): 55] diturunkan.
Abu Bakar Ahmad bin 'Ali al-Razi al-Hanafi di dalam Ahkam al-Qur'an 9  mengeluarkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahawa ayat ini diturunkan mengenai hak 'Ali AS. Sanad-sanadnya berakhir kepada Mujahid, Sudi, Abu Ja'far, 'Atbah bin Abi Hakim dan lain-lain.
Al-Qurtubi al-Andalusi di dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an,10  memindahkan hadith ini daripada Imam al-Baqir AS bahawa ayat ini diturunkan kepada Amiru l-Mukminin 'Ali AS dan keluarganya. Dia berkata: Mereka memberi zakat di dalam keadaan rukuk menunjukkan bahawa sadqah sunat dinamakan zakat kerana 'Ali AS telah bersadqah sunat dengan cincinnya semasa rukuk.
Rasyid Ridha yang bermazhab Wahabi di dalam tafsirnya al-Manar,11  al-Alusi di dalam Ruh al-Ma'ani 12menyatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada hak Amiru l-Mukminin 'Ali AS dengan berbagai riwayat yang berakhir setengahnya kepada Ibn 'Abbas dan setengahnya kepada Abdullah bin Salam.
Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha'ir al-'Uqba,13   telah meriwayatkan beberapa riwayat yang sahih di dalam bab ini. Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Huffaz.14
Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Gha'ib,15  mengatakan bahawa ayat ini menunjukkan bahawa imam selepas Rasulullah SAWAW ialah 'Ali bin Abi Talib AS. Justeru itu untuk mengukuhkannya, aku berkata: Bahawa sesungguhnya ayat ini menunjukkan bahawa apa yang dimaksudkannya ialah seorang imam. Dan apabila ianya menunjukkan sedemikian maka imam tadi mestilah 'Ali bin Abi Talib AS.
al-Bahrani di dalam Ghayah al-Maram 16  telah mengemukakan hadith-hadith yang menunjukkan ayat ini telah diturunkan kepada Amiru l-Mukminin 'Ali AS. Dia meriwayatkan sebanyak dua puluh empat hadith menurut saluran Ahlu s-Sunnah dan dua puluh hadith menurut saluran Syi'ah.
Begitu juga al-Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir 17  telah mencatat enam puluh enam nama-nama ulama Ahlu s-Sunnah yang masyhur yang telah menyebutkan hadith ini dan mereka pula menegaskan bahawa ayat ini telah diturunkan kepada Amiru l-Mukminin 'Ali AS dengan menyebutkan perawi-perawinya sekali.
          Aku berkata: Ini sahajalah peluang yang mengizinkan kami menyebutkan kata-kata Ahlu s-Sunnah di dalam bab ini. Adapun sahabat-sahabat kami Imamiyyah, Syi'ah keluarga suci, mereka bersepakat di dalam buku-buku Hadith, Tafsir dan ilmu l-Kalam bahawa ayat tersebut diturunkan pada hak 'Ali AS. Sesungguhnya beliaulah yang dimaksudkan dengan ayat ini. Tidak seorangpun menyalahinya. Kadangkala mereka mendakwa bahawa hadith ini telah sampai ke peringkat kemutawatirannya. Lantaran itu tidak ada ruang dan helah bagi seseorang itu untuk mengesyaki dan menolaknya melainkan ianya seorang pemarah, penentang ataupun terlalu rendah daya pemikirannya. 

Aku berkata: Ayat ini menentukan bahawa sesungguhnya imam dan khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah 'Ali bin Abi Talib AS kerana Allah SWT mengiringi wilayah 'Ali dengan wilayahNya dan wilayah RasulNya.
Perkataan innama (bahawa sesungguhnya) di dalam ayat tersebut memberi maksud al-Hasr dengan persetujuan ahli bahasa. Lantaran itu wilayah adalah ditentukan untuk mereka. Dan maksud dengan wali di sini adalah orang yang paling utama (aula) untuk mengurus sesuatu  dan seseorang itu tidak dikatakan aula (lebih utama) melainkan apabila dia adalah khalifah dan imam. Ini adalah pengertian yang masyhur menurut ahli bahasa.
Dari segi syarak mereka berkata: Sultan adalah wali kepada orang yang tidak mempunyai wali. Dan mereka berkata: Wali darah dan wali mayat, si anu adalah wali urusan rakyat dan si anu adalah wali bagi orang yang kurang daya kecerdikan. Nabi bersabda: Mana-mana perempuan yang mengahwini dirinya tanpa keizinan walinya, maka nikahnya adalah batil. Apa yang dimaksudkan dengan wali di dalam contoh-contoh tadi ialah al-Aula sebagaimana kata Mibrad di dalam buku al-'Ibarah tentang sifat-sifat Tuhan bahawa wali ialah aula.
Wali sekalipun sah dikaitakan dari segi bahasa dengan al-Nasr (pembantu) dan muhibb (pencinta) tetapi kedua-kedua pengertian itu tidak sesuai di tempat ini kerana kedua-duanya adalah umum, tanpa terbatas kepada orang yang dikehendaki di dalam ayat yang mulia ini iaitu firmanNya di dalam (surah al-Taubah (9):71):"Dan mukminin dan mukminah setengah mereka  menjadi Auliya' ke atas setengah yang lain."
Jika ditanya bagaimana dikehendaki dengan al-Ladhi na amanu (orang-orang yang beriman) itu Imam Amiru l-Mukminin AS seorang sahaja, sedangkan perkataan itu adalah umum? Maka kami menjawabnya:
1. Banyak terdapat di dalam percakapan Arab penggunaan perkataan jamak tetapi dikehendaki seorang sahaja berserta Qarinah dan sebaliknya. Ini adalah masyhur di kalangan mereka. Di dalam al-Qur'an firmanNya (Surah Ali Imran(3): 173):"Orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan sesungguhnya "manusia" telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada "mereka." Apa yang dimaksudkan dengannya ialah Nu'aim bin Mas'ud al-Asyja'i sahaja dengan ijmak ahli Tafsir dan Hadith.
2. Sesungguhnya Allah SWT telah mensifatkan al-Ladhi na amanu di dalam ayat yang mulia ini dengan sifat yang tidak menyeluruh kepada semua iaitu yuqimu s-Solah wa yu'tuna z-Zakat wa hum raki'un (yang mendirikan solat dan menunaikan zakat di dalam keadaan rukuk).
3. Ahli bahasa menggunakan perkataanjamak kepada seseorang adalah untuk ta'zim (penghormatan) sebagaimana disebutkan oleh al-Tabarsi di dalam Tafsirnya 18  mengenai ayat ini dengan menerangkan bahawa penggunaan perkataan jamak kepada Amiru l-Mukminin 'Ali AS adalah untuk tafkhim (kemuliaan) dan penghormatan. Dia berkata: Cara ini adalah paling masyhur di dalam percakapan mereka tanpa memerlukan dalil lagi.
4. Apa yang pasti jika dikehendaki dengan "semua" jami' ialah penyatuan wali dan mutawalli tetapi yang lazimnya ialah menyalahi kedua-duanya.

Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf 19  mengatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada Amiru l-Mukminin 'Ali AS. Jika anda bertanya: Bagaimana boleh ianya untuk 'Ali AS sedangkan perkataaan di dalam ayat tersebut adalah jamak? Aku menjawab:Ianya dibawa dengan perkataan jamak sekalipun sebabnya seorang lelaki sahaja adalah untuk menerangkan kepada orang ramai supaya mengikuti perbuatannya  ('Ali AS). Maka dengan ini, mereka akan mendapat pahala setanding dengan pahalanya. Dan menyedarkan bahawa tabiat Mukminin mestilah mempunyai matlamat bagi melakukan kebaikan, ihsan, dan melayani faqir miskin sehingga tidak menangguhkannya meskipun di dalam solat sehingga selesai solat.
Jika ditanya: Sesungguhnya Amiru l-Mukminin 'Ali AS telah menunaikan solat menghadapi Tuhannya dengan sepenuh hatinya tanpa merasai sesuatu di luar solatnya. Maka bagaimana beliau "merasai" perkataan peminta sadqah dan memahaminya. Maka jawapannya: Fahamannya tentang percakapan peminta sadqah tidak menafikan kekhusyukannya di dalam solat kerana ianya ibadah di dalam ibadah. Tidak ada jawapan yang lebih baik daripada apa yang telah dijawabkan oleh Abu l-Faraj al-Jauzi ketika ditanya mengenainya:
Dia menuang dan meminum tanpa dilalaikan oleh kemabukkannya
daripada minuman dan tidak melupai gelasnya.
Kemabukan yang mematuhinya sehingga membolehkannya
(melakukan) perbuatan orang yang segar, maka ini seunik-unik manusia.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul mencatatkan wa man yatawalla iaitu sesiapa yang mencintai Allah dan RasulNya dan al-lladhina amanu iaitu 'Ali, fa inna hizballah (sesungguhnnya parti Allah) iaitun Syi'ah Allah dan RasulNya dan walinya hum al-Ghalibun (mereka yang pasti menang) iaitu merekalah yang mendapat kemenangan.(Di dalam naskhah yang lain) al-'Alimun (mengetahui) sebagai ganti al-Ghalibun yang mendapat kemenangan. Dan di dalam perkiraannya (al-Hisab);"Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat, mengeluarkan zakat di dalam keadaan rukuk penilaiannya ialah Muhammad SAWAW selepasnya 'Ali bin Abi Talib dan itrahnya AS.
Di dalam al-Kafi daripada Ja'far bin Muhammad daripada bapanya daripada datuknya AS, beliau berkata: Manakala ayat innama wa liyyukumu llah wa Rasuluh diturunkan beberapa orang sahabat Rasulullah SAWAW berkumpul di Masjid Madinah. Sebahagian mereka berkata kepada sebahagian yang lain: Apa pendapat kalian tentang ayat ini? Sebahagian mereka menjawab: Sekiranya kita mengingkari ayat ini nescaya kita mengingkari kesemuanya (al-Qur'an). Dan sekiranya kita mempercayainya, maka ianya merupakan satu kehinaan kepada kita manakala 'Ali menguasai ke atas kita. Mereka menjawab: Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahawa Muhammad adalah benar apa yang diucapkannya. Justeru itu kita menjadikannya wali tetapi kita tidak akan mematuhi 'Ali tentang yang diperintahkannya. Maka turunlah ayat (Surah al-Nahl (16): 83):"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya" iaitu wilayah Muhammad SAWAAW (dan kebanyakan mereka mengingkarinya) iaitu wilayah 'Ali AS.
Al-Saduq di dalam al-Amali berkata:"Umar bin al-Khattab berkata:Aku telah bersadqah cincin dalam keadaan rukuk supaya diturunkan (ayat) sebagaimana telah diturunkan kepada 'Ali bin Abi Talib AS, tetapi ia tidak juga turun.
Aku berkata: Apabila anda mengetahui dalil-dalil Sunnah dan Syi'ah yang telah aku kemukakan, maka aku berkata:Tidak harus mendahului selain daripada 'Ali ke atas 'Ali sebagaimana tidak harus mendahului seseorangpun ke atas Nabi SAWAW kerana sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan Muhammad dan 'Ali bersamaNya di dalam ayat al-Wilayah. Adapun orang-orang yang bertentangan dengan kami sekalipun mereka mengetahui sesungguhnya ayat al-Wilayah telah diturunkan pada 'Ali AS secara Qat'i sebagaimana telah aku kemukakan tadi, mereka sengaja mengubah maknanya menurut mazhab mereka dan hawa nafsu mereka

Rancangan-rancangan jahat bagi menentang kami



Apabila kami mengisytiharkan bahawa kami telah berpegang kepada mazhab Syi'ah, maka ianya tersebar cepat ke seluruh negara. Orang ramai mulai berpegang kepada Syi'ah, secara kumpulan dan ada yang secara individu. Pada masa itu beberapa kumpulan yang menentang mazhab Ahlu l-Bait AS kerana kejahilan mereka mengenai mazhab tersebut, menjadi musuh kepada apa yang mereka tidak tahu. Lantaran itu mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan serta layanan yang keji terhadap kami di mana kami merasa mahu untuk menyatakannya disebabkan kekejiannya.

Sesungguhnya kebanyakan daripada mereka menghukum kami dengan kekafiran, dan kemurtadan.5 Lantaran itu kami menentang tuduhan mereka. Lalu mereka menggalakkan orang-orang yang bodoh mereka Sufaha'u-hum menentang kami. Mereka juga menggalakkan kanak-kanak mereka supaya menyakiti kami dengan kata-kata keji dan melontar kami dengan batu seraya berkata kepada kami: Wahai penyembah al-Qarmidah. Mereka maksudkan: Wahai penyembah turbah Husainiyyah. Mereka mulai mengingatkan orang ramai melalui mimbar-mimbar masjid tentang "pergaulan kami" dengan tuduhan kekufuran dan kemurtadan. Mereka memotong mata pencarian kami. Sekiranya kami mahu menyewa rumah untuk didiami, mereka akan datang kepada tuannya dan mengugutnya pula seraya berkata: Mereka itu adalah Musyrikun. Mereka mencaci sahabat. Jangan sekali-kali anda menyewakan rumah anda kepada mereka. Dan jikalau anda menyewakannya, nescaya kami akan menyakiti anda."

Ianya sungguh menghairankan seolah-olah kami telah keluar dari agama Islam dengan berpegang kepada mazhab ahlu l-Bait AS. Begitu juga dengan sekumpulan syaikh-syaikh di Halab, mereka telah menubuhkan persatuan yang mereka namakan "Persatuan dakwah Muhammadiyyah ke jalan yang lurus." Seorang daripada mereka bernama Amin Airudh telah mengarang sebuah buku dengan nama persatuan tersebut. Dia menulis di dalam kata-kata  yang keji bagi menentang kami di antaranya:" Tasyayyu' telah berkembang di seluruh Halab di tahap yang menakutkan. Justeru itu kami menentang golongan tersebut." Ia telah menjadi riuh rendah kemudian ia padam kerana suara kebenaran menjadi tinggi menjulang dan suaranya sentiasa kedengaran sehingga ia berkembang dengan pesat, sehingga tidak boleh didiamkannya oleh gegaran.

Walau apapun terjadi kami tetap cekal seperti gunung yang kukuh, tidak dapat digerakkan oleh ribut taufan. Kerana kami berpegang kepada kebenaran. Kami menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik dan berbincang dengan cara yang lebih baik dan perkataaan siapakah yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal salih dan berkata:"Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang Islam."Sesungguhnya Allah telah menolong kami menghadapi mereka dengan berkat Ahlu l-Bait AS. Sebenarnya merekalah yang gagal dan rugi, malah "perbuatan" mereka di hari kiamat nanti akan dibalas.

Pengisytiharan Sebagai Syi'ah



Sebagaimana kalian telah mengetahui bahawa dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang terang terdapat di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi'ah tentang kebenaran berpegang kepada mazhab Ja'fari kerana ianya merupakan salsilah keemasan yang tersusun rapi dan tidak dapat dipisahkan sebagaimana firmanNya dalam (Surah al-Baqarah (2): 256 yang bermaksud:"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Kerana itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus."
Sebagaimana sebuah hadith muktabar yang diriwayatkan oleh Ali AS daripada Nabi SAWAW bersabda:"Kamilah al-Urwah al-Wusthqa (buhul tali yang amat kuat)."
Di dalam riwayat yang lain beliau bersabda:"Kamilah al-Sirat al-Mustaqim kamilah subul jalan-jalan kepada Allah." Contoh-contoh hadith seperti ini adalah banyak. Semuanya menjelaskan kepada kita sabil (jalan) untuk berpegang kepada mazhab Syi'ah. Maka kami menerimanya dengan penuh kegembiraan kerana inginkan kejayaan dan kemenangan di akhirat kelak. Semoga Allah juga memberi petunjuk kepada kalian.
Sebagaimana seorang penyair bernama al-Kumait berkata dalam puisinya:
"Aku adalah Syi'ah Ahmad
dan mazhabku adalah mazhab al-Haqq.
Imam Syafi'i berkata: Manakala aku melihat manusia berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan.
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka adalah Ahlu l-Bait al-Mustafa.
dan penamat segala Rasul
Aku berpegang kepada tali Allah dengan mewalikan mereka sebagaimana Dia memerintahkan kita berpegang kepada taliNya.
Telah berpecah di dalam agama tujuh puluh golongan lebih sebagaimana tercatat di dalam hadith.
Semuanya tidak berjaya kecuali satu golongan maka katakanlah kepadaku mengenainya wahai orang yang mempunyai fikiran dan akal.
Adakah golongan yang binasa itu Ali Muhammad?
atau golongan lain yang berjaya? Katakanlah kepadaku.
Sekiranya anda berkat mengenai orang-orang yang berjaya, maka jawapannya ialah satu (keluarga Muhammad dan pengikut-pengikutnya).
Dan sekiranya anda berkata tentang golongan yang binasa nescaya anda tidak boleh berbuat apa-apa lagi.
Dan sekiranya maula mereka adalah daripada mereka (Ahlu l-Bait AS) maka sesungguhnya aku telah meredhai mereka dan sentiasa berteduh di bayangan mereka.
Kalian tinggallah Ali untukku sebagai Wali dan Keturunannya.
Dan kalian termasuk orang-orang yang tinggal di dalam kesenangan (abadi di akhirat kelak).
Dan dia berkata lagi:
Jikalau anda ingin mencari untuk diri anda satu mazhab yang akan menyelamatkan anda di hari kiamat daripada jilatan api
Maka tinggallah pendapat Syafi'i dan Malik dan Ahmad dan apa yang diriwayatkan oleh Ka'ab Ahbar
Maka perwalikanlah orang-orang dimana kata-kata dan percakapan mereka telah diriwayatkan oleh datuk kami daripada Jibra'il daripada Allah SWT."

Dan aku akan kemukakan kepada anda kelebihan-kelebihan al-itrah al-Tahirah dari buku-buku rujukan saudara-saudara kami Ahlus Sunnah di dalam buku ini nanti Insya Allah.

Sebab-sebab yang mendorong kami berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS.



1. Aku fikir beramal dengan mazhab Ahlu l-Bait AS diberi ganjaran yang sewajarnya di samping mendapat kebersihan jiwa tanpa sebarang syak. Apatah lagi ramai di kalangan ulama Ahlus Sunnah yang terdahulu dan sekarang telah memberi fatwa-fatwa mereka tentang keharusan berpegang kepada mazhab Syi'ah Ja'fariyyah seperti sahabat kami Syaikh al-Akbar, Syaikh Mahmud Syaltut. Dia telah mengeluarkan fatwanya yang disiarkan pada tahun 1959M, di majalah Risalatu l-Islam yang diterbitkan oleh Darul al-Taqrib baina l-Madhahib al-Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan antara Mazhab-mazhab dalam Islam, yang berpusat di Kairo, Mesir, nombor 3 tahun 11 halaman 227 sebagai berikut:
"Agama Islam tidak mewajibkan suatu mazhab tertentu atas siapapun di antara pengikutnya. Setiap muslim berhak sepenuhnya untukmengikuti salah satu mazhab yang manajua yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan menyakinkan. Dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab mazhab yang bersangkutan, yang memang dikhususkan untuknya. Begitu pula, setiap orang yang telah mengikuti salah satu di antara mazhab-mazhab itu , diperbolehkan pula untuk berpindah ke mazhab yang lain - yang manapun juga - dan dia tidak berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu....."

Kemudian dia berkata lagi:"Sesungguhnya mazhab Ja'fariyyah yang dikenali dengan sebutan mazhab Syi'ah Imamiyyah Ithna Asy'ariyah adalah satu mazhab yang setiap orang boleh beribadah dengan berpegang kepada aturan-aturannya seperti jgua mazhab-mazhab yang lain...."
"Kaum Muslimin sayugia mengerti tentang hal ini, dan berusaha melepaskan diri dari kongkongan 'Asabiyyah (fanatik) dalam membela sesuatu mazhab tertentu tanpa berasaskan kebenaran...."

2. Dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang kukuh dan terang seperti matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, telah menyakinkan kami bahawa mazhab Ahlu l-Bait AS adalah mazhab yang benar yang telah diambil oleh Syi'ah daripada para imam Ahlu l-Bait AS dasn daripada datuk mereka Rasulullah SAWAW daripada Jibrail AS daripada Allah SWT. Mereka tidak akan menukarkannya dengan yang lain sehingga mereka berjumpa dengan Allah SWT.

3. Wahyu telah diturunkan di rumah mereka dan Ahlul l-Bait (isi rumah) lebih mengetahui dengan apa yang ada dalam rumah daripada orang lain. Lantaran itu orang yang berfikiran waras tidak akan meninggalkan dalil-dalil dari Ahlu l-Bait AS dengan mengambil dalil-dalil dari orang-orang asing (di luar rumah).

4. Banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menyokong dakwaan kami dan kami akan menerangkannya kepada kalian nanti.

5. Banyak hadith-hadith yang sahih daripada Nabi SAWAW yang menunjukkan  kebenaran Ahlu l-Bait AS di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi'ah. Sila lihat buku kami Syi'ah Wa Hujjahtu-hum al-Tasyayyu' (Syi'ah dan hujah mereka tentang Tasyayyu') dan juga buku al-Muruja'at (Dialog Sunnah - Syi'ah) khususnya dialog keempat. Ianya akan memuaskan hati anda jika anda orang yang insaf. Jiika tidak, keuzuran anda adalah disebabkan kejahilan anda sendiri.


Syi'ah Adalah Golongan yang Berjaya



Syiah Adalah Golongan yang Berjaya
Sebab kejayaan golongan ini di samping apa yang telah disebutkan, ialah keistimewaannya daripada semua golongan Islam sebagaimana sabda Nabi SAWAW yang bermaksud:"Umatku akan berpecah kepada 73 golongan semuanya ke neraka melainkan satu golongan sahaja."
Kita dapati bahawa umat Islam semuanya mengucap: La-illaha illa lah Muhammadun Rasulullah. Sekiranya kita berkata: Semuanya berjaya, nescaya kita membohongi hadith ini. Dan jika kita berkata: Semuanya binasa, nescaya kita membohongi hadith tersebut. Lantaran itu golongan yang berjaya ialah golongan yang berpegang kepada Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW. Dan dalil kejayaannya ialah wujudnya dalil-dalil daripada al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAWAW dikedua-dua pihak Sunnah dan Syi'ah.

Lantaran itu golongan yang berjaya mesti mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh semua golongan iaitu al-Wila' (mewalikan Ahlu l-Bait AS) dan al-Bara' (membersihkan diri dari musuh Ahlu l-Bait AS). Mereka juga percaya kemaksuman para imam mereka.
Dengan nama Tuhan wahai pembaca yang insaf, mulia dan mukmin. Adakah dikatakan kepada orang seperti itu kafir, musyrik, murtad dan halal darah mereka? Dikaitkan kepada mereka dengan segala tohmahan yang penuh dengan kebatilan,pembohongan yang diciptakan dan kata-kata yang bohong dan keji sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibn Taimiyyah, Ibn Hajr al-Haithami, al-Qusaimi, al-Hafnawi, Musa Jarullah, Ahmad Amin, al-Jabhani dan lain-lain.

Begitu juga dengan Syaikh Nuh yang telah memberi fatwa kekafiran Syi'ah, pembunuhan mereka, perampasan harta mereka dan lain-lain. Dia mengakhiri fatwanya yang panjang dengan kata-katanya: Sama ada mereka bertaubat ataupun tidak. Lihatlah fatwanya yang ditulis oleh Imam Syarafuddin di dalam bukunya Fusul al-Muhimmah2 bab sembilan.
Tidakkah anda mengetahui wahai pembaca yang budiman apakah dosa Syi'ah? Adakah disebabkan mereka tidak mengiktiraf khilafah selain dari para imam mereka atau kerana mereka berkata: Khilafah adalah untuk mereka dari awal kerasulan Muhammad SAWAW hinggalah keakhirnya dunia. Maka dengan nama Tuhan kalian katakanlah: Adakah dosa ini menyebabkan kekafiran dan kemurtadan? La haula wala Quwwata illa bi llah.

Selepas kajian yang mendalam, kami dapati bahawa bilangan Syi'ah hari ini lebih daripada seratus juta. Dan jikalaulah mereka tidak menghadapi pembunuhan, permusuhan daripada musuh-musuh mereka, serta berbagai-bagai kezaliman dan tekanan sepanjang abad-abad yang lalu, nescaya bilangan mereka hari ini sekurang-kurangnya seribu juta. Mereka berkembang di seluruh pelusuk dunia, timur dan barat, utara dan selatan.

Kebanyakan mereka berada di dalam negara-negara Islam. Mereka menyebarkan dakwah Islam menurut mazhab mereka. Mereka telah melakukan perkhidmatan yang besar di mana orang-orang Islam bermegah dengan khidmat mereka. Buku-buku mereka melimpahi dunia sehingga tidak terhitung banyaknya. Untuk tujuan ini lihatlah buku al-Dahri'ah ila Tasanif al-Syi'ah karangan Syaikh Bazrak al-Tahrani. Dan ini merupakan sebahagian kecil daripada senarai buku-buku tersebut.

Di kalangan Syi'ah terdapat para ulama Islam, Fuqaha', Failasuf dan ahli-ahli fikir. Sultan-sultan, menteri-menteri, sasterawan-sasterawan, penyair-penyair, penulis-penulis, pakar-pakar ilmu bintang, matematik, falak, arkitek-arkitek, doktor-doktor, ahli-ahli seni dan lain-lain. Mereka memenuhi bumi Allah yang luas dengan ilmu dan amal. Mereka mempunyai pusat-pusat pengajian tinggi, masjid-masjid yang besar yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang bersembahyang, baik di Timur mahupun di Barat. Sebagai contoh Imam al-Akbar al-Sayyid Abu l-Hasan al-Musawi al-Asfahani (RH) telah membina masjid-masjid dan madrasah-madrasah di merata tempat di dunia. Begitu juga al-Imam al-Burujurdi (RH) telah menghantar pendakwah-pendakwah ke seluruh dunia dan membina masjid-masjid di Amerika, Jerman, London dan Paris. Adakah anda benar-benar mengenali Syi'ah wahai pencaci?

Apa yang mendukacitakan ialah kami tidak dapati di dalam buku-buku sirah, dan sejarah di kalangan Ahlus Sunnah selain daripada cacian, malah pengkafiran terhadap Syi'ah secara terang-terangan. Kenapa? Sebabnya kerana mereka (Syi'ah) adalah Musyrikin! Begitulah ditulis di dalam buku al-Sawa'iq am-Muhriqah (petir-petir yang membakar) oleh Ibn Hajr al-Haithami. Semoga Allah membakar penulisnya di akhirat kelak.
Jika dikatakan kerana mereka tidak hadir sembahyang juma'at dan jama'ah, ini adalah tuduhan yang besar. Adakah harus mengkafirkan muslim yang meninggalkan juma'at dan jama'ah wahai Muslimun?

Siapakah Syi'ah?


Syiah
Mereka itulah golongan yang benar dan yang terpilih daripada makhluk Allah. Golongan yang berjaya yang berpegang kepada wila' Allah, RasulNya dan para imam yang suci daripada Ahlu l-Baitnya SAWAW. Mereka mengetahui hak para imam mereka dengan sebenar-benarnya; mengetahui orang yang memusuhi mereka. Lalu memberikan setiap mereka hak mereka pula. Mereka menyembah Allah yang satu, tidak ada sekutu dan tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya.
Mereka beriman dengan risalah Nabi yang teragong Muhammad bin 'Abdullah SAWAW. Mereka beriman dengan:
  1. Imam Amiru l-Mukminin Abu l-Hasan Ali bin Abi Talib, al-Murtadha. (Lahir 23 tahun sebelum Hijrah, wafat 40H./601-661M)
  2. Abu Muhammad Hasan bin 'Ali, al-Mujtaba (3-50H/625-670M)
  3. Abu 'Abdullah Husain bin Ali, Saiyyidu sy-Syuhada' (4-61H/626-680M).
  4. Abu l-Hasan 'Ali bin Husain, Zaina l-'Abidin (38-95H/658-713M)
  5. Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali, al-Baqir (57-114H/478-732M)
  6. Abu 'Abdillah J'afar bin Muhammad, al-Sadiq (83-148H/702-765M)
  7. Abu l-Hasan Musa bin Ja'far, al-Kazim (128-183H/745-799M)
  8. Abu l-Hasan 'Ali bin Musa, al-Ridha (148-203H/732-818M)
  9. Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali, al-Taqiyy al-Jawad (195-220H/810-835M)
  10. Abu l-Hasan 'Ali bin Muhammad, al-Hadi al-Naqiyy (212-254H/827-868M)
  11. Abu Muhammad Hasan bin 'Ali, al-Zakiyy al-'Askari (232-260H/846-870M)
  12. Abu l-Qasim Muhammad bin Hasan, al-Mahdi al-Muntazar (256H/870M)
Syi'ah mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, khums, mengerjakan haji, berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak takut kerana Allah (di atas) celaan orang yang mencela. Menyuruh perkara baik dan menegah kemungkaran. Bersegera kepada kebaikan, melakukan kewajipan dan menegah segala yang diharamkan.