Tuesday, March 8, 2016

Spiral Keheningan Burung Bul-bul


Kelap-kelip bintang di langit menghiasi langit malam. Meski pun jauh cahayanya berikan keindahan tersendiri. Berjuta-juta  gugusan cahaya bertebaran di langit malam ini. Begitu indah dan memukau. Di atas loteng rumah ku duduk sendiri menyerap keindahan-keindahan malam ini. Suara jankrik sahut menyahut turut menikmati indahnya malam menambah kesempurnaan dengan alunan syair yang mereka lontarkan. Meskipun aku tidak tahu makna syairnya tpi paling tidak aku menikmati  alunan suaranya. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan. Kudengar suara nafasku sedikut menciut, seolah itu pesan dari paru-paruku ”ampumma odonk”. Munkin ini akibat keseringan merokok. Meskipun aku sebenarnya tahu merokok akan mengganggu kesehatan, bahkan dapat menyebabkan kanker atau kantong kering. Antara aku dan rokok adalah dua hal yang sulit dipisahkan, layaknya dua sepasang sejoli. Sehingga saat ini masi sulit untuk ditanggalkan.
Kupejamkan mata mencoba untuk memasuki ruang  spiral keheningan. Lalu kuhisap rokok yang dari tadi menempel di sela jemariku. Ku biarkan imajinasiku mengembara,bebas dan merdeka. Terpampang sketsa-sketsa peristiwa layaknya rentetan video muncul, singkat lalu berganti lagi dengan video lainnya. Aku terus mencari sketsa peristiwa  untuk  bahan renunganku.
Kuhisap kembali rokokku lalu kukepulkan asapnya  tepat di hadapan wajahku. Akhirnya terputar sketsa peristiwa burung bul-bul. Sepertinya ini akan menjadi bahan renunganku.
***
Dari kejauhan terlihat kobaran api yang begitu besar, menjilat-jilat ke udara menghabisi apa yang disekitarnya. Situasi begitu mencekam sebagian kecil orang menangis meraung melihatnya, sebagian besar orang tertawa dan bersorak. Mereka bersedih karena akan kehilangan Sang Pembaharu. Mereka bahagia  karena berhasil menlenyapkan penghianat.
 Namun di tempat yang berbeda  segerombolan burung bul-bul bertengger pada dahan pohon  kurma dengan ekspresi  tegang, takut dan bercampur sedih menyaksikan peristiwa pembakaran hidup-hidup nabi Ibrahim as. Mereka mengutuk manusia yang memperlakukan sosok nabi mereka. Air mata pun mengalir menyaksikan gunung api yang membakar  Ibrahim as.
Tiba-tiba seekor burung bul-bul terbang menjauh kemudian kembali melewati gerombolannya ke arah sumber api. Lalu terbang menjauh dan kembali ke sumber api lagi. Hal itu membuat burung bul-bul lainnya keheranan terhadap perilaku rekannya yang satu ini. “Apa yang kamu lakukan sobatku, kesana kemari  seolah kau hendak menyelamatkan Ibrahim as?” Tanya salah satu burung bul-bul yang bertengger di pohon kurma. Burung bul-bul tersebut terus terbang ke arah sumber api kemudian kembali dan menjawab pertanyaan rekannya “ Aku berusaha memadamkan api itu dengan mengambil seteguk air di laut merah  menggunakan paruku “.
Kawanan burung bul-bul dibuatnya kaget dengan jawaban itu  dan kembali berucap “ Air yang kamu ambil itu meskipun kamu melakukan seharian tak akan dapat memadamkan api yang begitu besar, itu perbuatan sia-sia”. Dengan nafas terengah-engah lalu menjawab “ Aku tahu paruku begitu kecil sebagai penampung air untuk memadamkan api, dan aku tahu meskipun seharian aku melakukan ini tidak akan mampu memadamkan api yang membakar Ibrahim as.” Dia berhenti sejenak menatap lautan api tersebut kemudian dia lanjut berucap “tapi aku ingin membuktikan kecintaanku dan pembelaanku kepada Ibrahim as atas musibah yang menimpanya”. Kemudian terbang meninggalkan kawanannya kea rah laut merah kembali mengambil air untuk dibawah ke sumber api. Itu terus dilakukannya tanpa mengenal lelah dengan tetesan air mata di pipihnya.
Burung bul-bul yang bertengger di pohon kurma terharu terhadap tindakan kawannya dan tergerak untuk membantunya. Seekor demi seekor terbang dan bergabung pada barisan burung yang bolak-balik membawa air hingga tak satu pun burung lagi yang tetap tinggal diam jadi penonton pembakaran Ibrahim as.
***
Krik krik krik… Krik krik krik… Krik krik krik…
Suara bunyi jankrik masi menemani malamku dari pengembaraanku  di alam khayal. Sebuah kisah perjuangan penuh cinta.
Kutatap kembali jutaan bintang di langit sambil menghisap sisa rokok ku. Ada yang terang sekali, ada yang terang dan ada yang kurang terang. Namun kesemuanya menghasilkan cahaya. Begi tu pun sosok manusia dalam perjalanan hidupnya selalu menerangi sekitarnya. Ada yang menerangi dengan cahaya terang sekali, ada yang menerangi dengan cahaya terang dan ada yang menerangi dengan kadar cahaya yang agak rendah tapi semuanya menerangi.
Kuhisap rokok ku yang terakhir kalinya sebelum aku membuangnya karena sudah mendekati garis lingkaran pembatas antara tembakau dan filter. Tiba-tiba saja aku menyaksikan bintang jatuh. Kata orang jika melihat bintang jatuh lalu berdo’a,  maka do’a tersebut akan terwujud. Lalu segera aku menutup mata kembali dan menarik nafas yang dalam sambil berucap “Semoga aku dapat bertindak seperti burung bul-bul”.
                                                                                Gowa, 9 Oktober  2015

1 comment:

kopi hitam said...

Sebuah cerpen yang inspiratif