bahagia namun sedih,
bangga namun kecewa,
....
Kini baru kusadari dirimu yang sebenarnya,
memotong harapanku,
menghempaskan kedasar jurang.
memotong harapanku,
menghempaskan kedasar jurang.
Entah apa yang terjadi dengan mu?
Munkin kenikmatan lebih melingkarimu di sana,
sehingga kau larut dengan kenikmatan itu
melupakan kesepakatan yang kita buat bersama,
Sungguh bermegah-megahan telah melalaikan kita,
Sungguh kesadaran sangatlah penting,
Sungguh penghianatan sejati disebabkan ketiadaan kesadaran.
Kini aku hanya termenung pada ruangan kosong
Menunggu kehadiran dan permintaan maafmu.
Bergegaslah kemari kawan,
Masuki ruang sadarmu yang tak terpagar,
Tanggalkan semua ikatan yang melilit tubuh,
Lalu kepakkan kedua sayapmu
dan terbang kelangit luas tanpa batas.
Dari atas sana...
Kau akan melihat diriku,
sendiri duduk tersipuh pada panasnya malam namun dingin,
Lalu tempatkan dirimu pada diriku,
Mencubit diri sendiri itu sakit,
Maka jangan kau cubit orang lain,
Pasti akan terasa sakit juga.
Tapi tak apalah,
Aku terimah perlakuan itu,
Berusaha lapang dan tetap berdiri,
Lalu aku keluar dengan roda duaku
Menembus dinginnya malam,
Mencari warung membeli sebatang lisong...
Lalu aku kembali,
Menuliskan cerita untuk tersampaikan.
No comments:
Post a Comment