Kupejamkan mata mencoba untuk memasuki ruang spiral keheningan. Lalu
kuhisap rokok yang dari tadi menempel di sela jemariku. Ku biarkan imajinasiku
mengembara,bebas dan merdeka. Terpampang sketsa-sketsa peristiwa layaknya
rentetan video muncul, singkat lalu berganti lagi dengan video lainnya. Aku
terus mencari sketsa peristiwa untuk bahan renunganku.
Kuhisap kembali rokokku lalu kukepulkan asapnya tepat di hadapan
wajahku. Akhirnya terputar sketsa peristiwa burung bul-bul. Sepertinya ini akan
menjadi bahan renunganku.
***
Dari kejauhan terlihat kobaran api yang begitu besar, menjilat-jilat ke
udara menghabisi apa yang disekitarnya. Situasi begitu mencekam sebagian kecil
orang menangis meraung melihatnya, sebagian besar orang tertawa dan bersorak.
Mereka bersedih karena akan kehilangan Sang Pembaharu. Mereka bahagia
karena berhasil menlenyapkan penghianat.
Namun di tempat yang berbeda segerombolan burung bul-bul
bertengger pada dahan pohon kurma dengan ekspresi tegang, takut dan
bercampur sedih menyaksikan peristiwa pembakaran hidup-hidup nabi Ibrahim as.
Mereka mengutuk manusia yang memperlakukan sosok nabi mereka. Air mata pun
mengalir menyaksikan gunung api yang membakar Ibrahim as.
Tiba-tiba seekor burung bul-bul terbang menjauh kemudian kembali melewati
gerombolannya ke arah sumber api. Lalu terbang menjauh dan kembali ke sumber
api lagi. Hal itu membuat burung bul-bul lainnya keheranan terhadap perilaku
rekannya yang satu ini. “Apa yang kamu lakukan sobatku, kesana kemari
seolah kau hendak menyelamatkan Ibrahim as?” Tanya salah satu burung bul-bul
yang bertengger di pohon kurma. Burung bul-bul tersebut terus terbang ke arah
sumber api kemudian kembali dan menjawab pertanyaan rekannya “ Aku berusaha
memadamkan api itu dengan mengambil seteguk air di laut merah menggunakan
paruku “.
Kawanan burung bul-bul dibuatnya kaget dengan jawaban itu dan kembali
berucap “ Air yang kamu ambil itu meskipun kamu melakukan seharian tak akan
dapat memadamkan api yang begitu besar, itu perbuatan sia-sia”. Dengan nafas
terengah-engah lalu menjawab “ Aku tahu paruku begitu kecil sebagai penampung
air untuk memadamkan api, dan aku tahu meskipun seharian aku melakukan ini
tidak akan mampu memadamkan api yang membakar Ibrahim as.” Dia berhenti sejenak
menatap lautan api tersebut kemudian dia lanjut berucap “tapi aku ingin membuktikan
kecintaanku dan pembelaanku kepada Ibrahim as atas musibah yang menimpanya”.
Kemudian terbang meninggalkan kawanannya kea rah laut merah kembali mengambil
air untuk dibawah ke sumber api. Itu terus dilakukannya tanpa mengenal lelah
dengan tetesan air mata di pipihnya.
Burung bul-bul yang bertengger di pohon kurma terharu terhadap tindakan
kawannya dan tergerak untuk membantunya. Seekor demi seekor terbang dan
bergabung pada barisan burung yang bolak-balik membawa air hingga tak satu pun
burung lagi yang tetap tinggal diam jadi penonton pembakaran Ibrahim as.
***
Krik krik krik… Krik krik krik… Krik krik krik…
Suara bunyi jankrik masi menemani malamku dari pengembaraanku di alam
khayal. Sebuah kisah perjuangan penuh cinta.
Kutatap kembali jutaan bintang di langit sambil menghisap sisa rokok ku.
Ada yang terang sekali, ada yang terang dan ada yang kurang terang. Namun
kesemuanya menghasilkan cahaya. Begi tu pun sosok manusia dalam perjalanan
hidupnya selalu menerangi sekitarnya. Ada yang menerangi dengan cahaya terang
sekali, ada yang menerangi dengan cahaya terang dan ada yang menerangi dengan
kadar cahaya yang agak rendah tapi semuanya menerangi.
Kuhisap rokok ku yang terakhir kalinya sebelum aku membuangnya karena sudah
mendekati garis lingkaran pembatas antara tembakau dan filter. Tiba-tiba saja
aku menyaksikan bintang jatuh. Kata orang jika melihat bintang jatuh lalu
berdo’a, maka do’a tersebut akan terwujud. Lalu segera aku menutup mata
kembali dan menarik nafas yang dalam sambil berucap “Semoga aku dapat bertindak
seperti burung bul-bul”.
Gowa, 9 Oktober 2015
1 comment:
Sebuah cerpen yang inspiratif
Post a Comment