Thursday, May 26, 2016

Philosofi, Saince and Religions: Sambutan Prof. Dr. Kamaruddin Hidayat




Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Kamaruddin Hidayat
Prof. Dr. Kamaruddin Hidayat
Pada acara seminar International

Alhamdulillah wasyukrillah wassalatu wassalam alan nabiyyi Muhammadarrasulullah amma ba’adu
Ikhwanil kiron ismahuli li astamarital fil alkatil fil indinesia tashilan lil walakum

Tema filosfis saince and religions
Satu hal pertanyaan yang terlintas ketika telah membaca sejara islam di abat pertengahan.
Mengapa dulu di abad pertengahan dunia Islam itu banyak melahirkan saintis? Tapi sekarang ketinggalann sekali dalam bidang kedokteran, teknologi kita ketinggalan sekali.
Padahal dulu umat islam sebagai pionir, ini menjadi pertanyaan sekian banyak pemikir dan sekian banyak buku?
Umat islam sekarang ini cara berpikirnya cenderung deduktir normatif, legalistif normatif deduktif. Deduktif itu satu pemikiran yg sudah mapan kemudian ditransfer kepada dalil-dalil, sehingga tidak berkaitan langsung dengan realitas empiris induktif. Misalnya fiqih, awalnya sangat induktif dan empiris. Tapi kemudian muncul ushul fiqih yg kita transfer dalil-dalil ushulnya. Jadi sekarang kita menghapalkan dalil ushul fiqih, yang itu transfer dari deduktif formula, padahal awalnya fiqih itu sangat induktif. Makanya ada suatu yg positif umat islam mewarisi warisan intelektual yang sangat kaya, melimpah. Tapi resikonya kita kehilangan tradisi penelitian empiris, yang ada kemudia merujuk pada warisan yang lama, kita terbawa pada berfikir deduktif tdk ada yang baru. Dalam kalam, itu dialetical Bruch, bukan metode burhani, demonstratif thinking, tapi mujadalah (dialectikel).

 Itu sesungguhnya lari di tempat. Itu-itu aja. Itu salah satu implikasi berfikir dealektis deduktif.

Padahal Al-Quran sendiri pada  awalnya sangat induktif, kentekstual induktif, mersponi realitas keadaan yang riil sekali, hadits juga begitu sangat induktif. Tapi kemudian, ke sini, dipaket-paket, diformula-formula deduktif, lalu kemudian kita hapal al-quran dan hadits tapi kita tidak tahu konteksnya. Kita kehilangan empiris induktif. Makanya kemudian selalu lari kebelakang, tidak berdaiawah dengan realitas.

Nah ini yang membedakan dengan sains, sains itu induktif empiris, makanya dalam sains selalu terjadi temuan-temuan baru. Mengapa? Karena selalu berhadapan dengan realitas, dipecahkan, dibawah ke laboratorium, diuji coba, diferifikasi,terus, sehingga muncul temuan baru.

Dulu di abat petengahan banyak orang islam  melahirkan sains, kedokteran itu sains,
Jadi kedokteran itu emperical sains, tidak adal dalil-dalil deduktif.
Kalau penyakit jantung, paru-paru ,tidak ada dalil nya deduktif yang ada kemudian atas dasar riset empiris. Makanya sains itu selalu berkembang ke depan. Kecenderungan agama itu mencari referensi otentik kebelakang, di sinilah yang menimbulkan masalah.
Apakah the nice of the problem seperti itu atau pendekatannya yang perlu kita tinjau ulang?
Jadi, orang beragama itu mencari masa lalu yang otentik ila’usolah, sementara sains itu progres, maka ciri sains itu set-ri-set-ri-set, set itu itu mencari kembali. Sehingga kemudian ada we extensi the boundaris of knowlegs itu ciri sains.

Tapi kalau agama we comebeck the if original refrence, padahal sekali lagi al quran-hadits itu at the big in veri induktif and empirical. Tapi sekarang menjadi deduktif menjadi himpunan formula-formula. Inilah salah satu, disamping tentu mengapa sains islam menurun, karena dunia islam sangat melimpah warisan intelektual dan kemudian berebut kekuasaan politik prakatise energi  ekonomi intelektual itu tersedot pada perebutan kekuasaan.

Sedikit dunia islam yang konsen pada riset and sains. Kita liat ketika Saddam Husein berkuasa, fantastik jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli senjata. Padahal dulu, Baghdad menjadi pusat sains. Tapi terjadi keterputusan. Irak-Baghdad itu pusat sains. Tetapi ketika zaman Saddam Husein, itu kemudian yang ditimbun adalah kekuasaan persenjatahan, andaikan itu dikembangkan untuk riset keilmuan itu sangat luarbiasa. Saya perna kesana dulu, sekarang museumnya hilang, jadi ini adalah masalah. Dan sampai sekarang masih terlibat problem dengan adanya ISIS dan sebagainya, jadi kita sibuk. Makanya satu hal lagi yang menarik, mengapa sains berjalan di luar? Karena mereka mereka mengembangkan tradisi riset. Sementara kita deduktif. Dan di dunia arab itu belum terjadi revolusi industri, makanya perserekitan dan pekerja buru tidak ada. Yang ada itu masyarakat itu berada di bawah sultan-sultan. Jadi belum punya tradisi demokrasi. Sedangkan saintifik developmen itu sangat dekat dengan kebebeasan berfikir, ada hubungan saintifik developmen dengan demokrasi, karena rakyat terbiasa berfikir. Di indonesia, demokrasi lebih mapan, mengapa? Karena negara pun lahir dari rakyat. Orientasi semacam Muhammadiyya dan NU itu punya andil besar mendirikan NKRI ini, jadi ada partisipasi dari rakyat. Tapi dari beberapa negara itu adalah tanpa partisipasi tapi dikapling-kapling, paska perang dunia itu ada kekosongan kekuasaan, ottoman itu bencrap, oleh inggris, prancis digaris-garis saja. Maka muncullah negara-negara itu. Dan negara-negara itu munculbatas- batasnya juga digaris-garis saja. Sehingga antara negara terjadi disfiut. Nah ini juga berakibat pada mainset of the people, tidak ada.

Di pakistan ada tradisi riset, misalnya Abdul Salam, tapi kemudian negaranya sibuk konflik. Di Iran punya tradisi riset. Di Mesir ilmuan-ilmuan agama bagus, tapi negaranya sibuk dengan konflik politik. Sayang sekali!
Ilmu sosial di Afrika Utara bagus berkembang karena dekat dengan tradisi Prancis. Tapi dalam bidang keagamaan kita sibuk dengan pemikiran deduktif dan pemikiran  deduktif itu ibarat rumah, tembok yang memberikan rasa aman dan nyaman, kita itu di sini karena aman dan nyaman, tapi sekaligus jika kita perkuat tembok ini dan tidak perna keluar, maka lama-lama tembok itu akan menjadi penjarah.

Jadi warisan pemikiran islam itu memberikan rasa aman, rujukan, tapi ketika kita tidak doyan riset maka itu lama-lama akan menjadi penjarah.
Umat islam itu terpenjarah dengan warisan intelektual yang begitu kaya. Sehingga dalam bidang sains, kita kalah.

Anda bangun tirdur aja, dari sabunnya, minumnya, mereknya apanya aja, nanti kita akan dapat mayoritas, sebagian besar itu adalah produk bangsa lain. Dari bangun tidur apa saja yang kita pakai! Mengapa? Karena kita lemah sekali dengan tradisi riset.

Kalau ada pertemuan, majelis selalu ditutup dengan do’a kesalamatan dunia akhirat. Tapi kita langsung berfikir akhiratnya saja, fidunnia hasana tidak diupload.
Fiddunya hasana itu dibangun dengan apa? Yaitu denganThe Religions Filosofi and Sains. Kita berhenti pada religions dalam arti tradisi. Filosofi itu memberikan critikal Thinking, al-Manhaj, al-burhani, bukan jaddali. Kita bedakan burhani dan jaddalai. Burhani itu, mendekati pendekatan saintifik abruch yaitu kritikal yang tidak mengenal batas.

Sehingga di UIN ini, tentu kita harus menjaga warisan yang klasik , almufakhodoh, al kodim, al sholeh wal ahdu, al ajid wal aslah. Bukan al ahdu! Al bidhu yang seharusnya. Harus mencipta (Bid’ah),  sains itu penuh dengan bid’ah, bid’ah itu bagaian dari sifat Allah “Badi’ussamawati wal ardi” Allahu al-badi’ itu Allah maha pencipta dan manusia itu khlaifah Allah. Jadi manusia itu dicipta untuk mencipta- mencipta, menciptakan bith’ah-bid’ah.

Kalau tidak ada bid’ah maka tidak ada sains. Handpone itu bid’ah, dalam agama itu sudah selesai. Tapi dalam filosofi dan sains kita harus menciptakan “Al bid’ah’”. Mim Ba’di Asmahillah Al badhi’/ bith’a. Sains itu adalah suatu usaha penuh bith’ah, kreasi-kreasi dan inofasi. Sekarang bangsa negara yang tidak menciptakan inofasi/kreasi tidak banyak bid’ahnya akan ketinggalan. Saya berharap bahwa kedepan kita, saya sering malu jika sering ngomog “Al islam yuklah walah yaklu” apanya yang yuklah? Apanya yang yaklu? Harus dibedakan! Kalau kita berbicara fiddunya hasanah yang yaklu ala yukalah, tunjukkan dalam bidang saintifik.

Dan indonesia sebagai masyarakat islam terbesar di dunia, kita punya ormas terbesar di dunia, muhammadiyah dan Nu terbesar di dunia, tapi tidak punya lembaga pendidikan tingkat dunia. Ini saya sebagai rektor merasa malu. Malaisya negaranya kecil, punya. Lintas islam antar bangsa. Mesir yang ribut melulu punya, Al azhar. Indonesia yang ributnya di DPR kita tidak punya perguruan tinggi kelas dunia. Saya sebagai rektor berkali-kali lobi mengusulkan kepada menteri agama kepada Bapennas, mentok di sana. Langitnya rendah, maunya kita tinggi langitnya.
Anda coba jalan-jalan ke UI, kampus kita tidak ada apa-apanya, lokasinya kecil. Anda ke Gajamadah kecil juga. Tapi kecil tidak apa, asalkan mimpinya , program itu besar. Jepang kecil-kecil, tapi kelas dunia.

Saya harap The Religions filosofi and sains, itu kemudian suatu tema yang tidak dibatasi oleh negara atau bangsa.
 Mari kita jangan, udah hidup dalam tembok, dan membuat tembok kecil lagi dan membuat tembok kecil lagi. Rasulullah itu ketika, menyampaikan acaranya, dia membongkar tembok sukuisme. Jadi waktu itu, orang itu harga dirinya, martabatnya itu tanya sukua apa anda? Waktu itu yang terkuat suku qurais. Tapi oleh rasulullah melakukan the tribalisasi. Jadi kategori-kategori itu dirobohkan diganti menjadi muhajirin dan anshor.

Selama ini energi kita banyak terkuras pada kekuasaan dan politik, saya ngomong begini sebagai keprihatinan saya.

Ahlan wa sahlan

No comments: