BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia pada hakikatnya memiliki kedudukan sebagai makhluk sosial dan makhluk individu. Kaitannya dengan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial maka dalam menjalankan aktivitas sehari – harinya manusia tidak akan pernah terlepas dari manusia yang lainnya, sehingga dalam prosesnya akan terjadi suatu interaksi yang dapat menimbulkan suatu dampak , baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak itulah yang pada akhirnya akan menimbulkan berbagai fenomena – fenomena yang terjadi dilingkungan manusia,baik fenomena dalam bentuk skala kecil maupun fenomena dalam bentuk skala besar. Karena manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang senantiasa terus berfikir maka manusia senantiasa meneliti setiap fenomena yang berada di sekitar dirinya dan lingkungannya. Dalam proses penelitian tersebut perlu adanya suatu prosedur serta ketetapan yang jelas dengan begitu proses penelaahan tersebut akan menghasilkan suatu informasi yang dapat memberikan manfaat bahkan memberikan kontribusi yang besar bagi setiap permasalahan atau kendala yang sedang dihadapi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan penelitian etnografi ?
2. Apa saja prinsip – prinsip yang harus diterapkan dalam penelitian etnografi ?
3. Seperti apa prosedur penelitian etnografi dilaksanakan ?
4. Apa yang dimaksud dengan Grounded Theory ?
5. Apa saja yang menjadi ciri dari Grounded Theory ?
6. Apa saja prinsip yang harus diterapkan dalam Grounded Theory ?
7. Seperti apa proses analisis data dalam Grounded Theory ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari penelitian etnografi.
2. Untuk mengetahui prinsip yang harus diterapkan dalam penelitian etnografi.
3. Untuk mengatahui prosedur dalam melaksanakan penelitian etnografi.
4. Untuk mengetahui pengertian dari Grouded Theory.
5. Untuk mengetahui ciri dari Grounded Theory
6. Untuk mengetahui prinsip yang harus diterapkan dalam Grounded Theory.
7. Untuk mengetahui proses analisis data dalam Grounded Theory.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penelitian Etnografi
1. Pengertian Penelitian Etnografi
Istilah etnografi berasal dari kata ethno (bangsa) dan grafhy (menguraikan). Etnografi yang akarnya antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Jadi etnografi lazimnya bertujuan mengurangi suatu budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya, baik yang bersifat material seperti artefak budaya (alat-alat, pakaian, bangunan, dan sebagainya) dan yang bersifat abstrak, seperti pengalaman, kepercayaan, norma, dan sistem nilai kelompok yang teliti. Uraian tebal (think description) merupakan ciri utama etnografi.[1]
Etnografi adalah suatu bentuk penelitian yang terfokus pada makna sosiologi melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural. Pemilihan informan dilakukan kepada mereka yang mengetahui yang memiliki sudut pandang/pendapat tentang berbagai kegiatan masyarakat. Para informan tersebut diminta untuk mengidentifikasi informan – informan lainnya yang mewakili masyarakat tersebut. Informan – inforan tersebut diwawancarai berulang – ulang, menggunakan informasi dari informan – informan sebelumnya untuk memancing klarifikasi dan tanggapan yang lebih mendalam terhadap wawancara ulang. Proses ini dimaksudkan untukmelahirkan pemahaman – pemahaman kultur umum yang berhubungan dengan fenomena yang sedang diteliti. Penelitian etnografi khusus menggunakan tiga macam cara pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Sehingga pada gilirannya menghasilkan tiga jenis data yaitu kutipan, uraian, dan kutipan dokumen yang tergabung dalam satu produk yaitu uraian naratif.[2]
Dari semua yang disiplin yang kita kenal, antropologi-lah yang tampaknya paling sering menggunakan etnografi beberapa antropolog yang terkenal dengan etnografinya adalah bronislaw malinowski, A.R. Radcliffe-Brown, Franz Boas, Margaret Mead, and Clifford Greertz. Tetapi etnografer tidak mengingkari teknik penelitian kuantitatif : mereka juga sering menggunakan sensus dan prosedur statistik untuk menganalisis pola-pola atau menentukan siapa yang menjadi sampel penelitian. Etnografer juga terkadang menggunakan tes diagnotis, inventori kepribadian, dan alat pengukuran lainnya. Pendeknya etnografer akan memanfaatkan metode apa pun yang membantu mereka mencapai tujuan etnografi yang baik.[3]
Jadi yang dapat kita fahami bahwa penelitian etnografi merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif yang mana wilayah kajiannya difokuskan pada aspek budaya manusia baik itu dalam penggunaan bahasa, interaksi maupun fenomena – fenomena sosial lainnya yang terjadi di kehidupan sehari – hari.
2. Ciri – Ciri Penelitian Etnografi
Berikut ini aspek atau karakteristik etnografi baik yang dirangkum dari Wolcott dan Gay, Mills dan Airasian.
1. Berlatar alami bukan eksperimen di laboratorium
2. Peneliti meneliti tema-tema budaya tentang peran dan kehidupan sehari-hari seseorang
3. Interaksi yang dekat dan tatap muka dengan partisipan
4. Mengambil data utama dari pengalaman di lapangan
5. Menggunakan berbagai metode pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan,
dokumen, artifak dan material visual.
6. Peneliti menggunakan deskripsi dan detail tingkat tinggi
7. Peneliti menyajikan ceritanya secara informal seperti seorang pendongeng
8. Menekankan untuk mengekplorasi fenomena sosial bukan untuk menguji hipotesis.
9. Format keseluruhannya adalah deskriptif, analisis dan interpretasi
10. Artikel diakhir dengan sebuah pertanyaan.
Menurut Nur Syam, ciri-ciri penelitian etnografi adalah :
1. Deskripsi etnografis sepenuhnya disusun sesuai dengan pandangan, pengalaman warga
pribumi (emic view)
2. Memanfaatkan metode wawancara mendalam dan observasi terlibat.
3. Peneliti tinggal di lapangan untuk belajar tentang budaya yang dikajinya.
4. Analisis datanya bercorak menyeluruh (holistik) yaitu menghubungkan antara suatu
fenomena budaya dengan fenomena budaya lainya atau menghubungkan antara suatu
3. Prinsip – Prinsip Metodologi Penelitian Etnografi
a. Naturalisme
Ini merupakan pandangan bahwa tujuan penelitian sosial adalah untuk menangkap karakter prilaku manusia yang muncul secara alami, dan ini hanya dapat diperoleh melalui kontak langsung dengannya, bukan melalui inferensi dari apa yang dilakukan orang dalam latar buatan seperti eksperimen atau dari apa yang mereka katakan dalam wawancara tentang apa yang mereka lakukan. Ini adalah alasan bahwa ahli etnografi melakukan penelitian mereka dalam latar alami, latar yang ada kebebasan proses penelitian, bukan dalam latar yang secara spesifik dibuat untuk tujuan penelitian.
b. Pemahaman
Yang sentral disini adalah alasan bahwa tindakan manusia berbeda dari prilaku objek fisik, bahkan dari makhluk lainnya, tindakan tersebut tidak hanya berisi tanggapan stimulus, tetapi melalui interpretasi terhadap stimulus dan konstruksi tanggapan. Kadang-kadang tanggapan ini mencerminkan penolakan yang lengkap terhadap konsep kausalitas sebagai tidak dapat diterapkan dalam dunia sosial, dan desakan tegas atas karakter yang dibangun secara bebas dari tindakan manusia dan institusi.
c. Penemuan
Corak lain dari pemikiran etnografi adalah konsepsi proses penelitian sebagai induktif atau berdasarkan temuan, daripada dibatasi pada pengujian hipotesis secara eksplisit. Itu beralasan bahwa jika seseorang mendekati suatu fenomena dengan suatu set hipotesis, mungkin dia gagal menemukan hakikat fenomena tersebut sebenarnya dibutakan oleh asumsi yang dibangun kedalam hipotesis tersebut. Namun, mereka memiliki suatu minat umum dalam banyak jenis fenomena sosial dan atau dalam banyak masalah teoteris atau masalah praktis.
4. Prosedur Penelitian Etnografi
a. Urutan Linear dalam Penelitian Ilmu Sosial
McCord dan McCord dalam penelitiannya tentang kriminalitas, mengikut prosedur urutan linear. Mereka menyusun suatu prosedur penelitian untuk melihat apakah model peranan orangtua memengaruhi anak-anak untuk mengatasi prilaku kriminal atau menghindari prilaku tersebut. Semua detail dari penelitian mereka tidak perlu dipertimbangkan untuk mengikuti urutan linear dari aktivitas ringkas berikut:
1) Tahap pertama: mendefinisikan suatu masalah penelitian. McCord mulai dengan mendefinisikan masalah penelitian sebagai hubungan antara lingkungan keluarga dengan penyebab kejahatan.
2) Tahap kedua: merumuskan hipotesis. Peneliti merumuskan sejumlah hipotesis penelitian tentang hubungan antara sikap orangtua, prilaku, dan disiplin terhadap aktivitas kriminal (atau absen dari aktivitas tersebut) dari anak-anak.
3) Tahap ketiga: membuat definisi operasonal. Penelitian mendefinisikan kata-kata, frase seperti penyimpangan dan model peran orangtua dalam istilah-istilah spesifik yang memungkinkan peneliti setuju bila mereka mengidentifikasi prilaku menyimpang.
4) Tahap keempat: merancang instrumen penelitian. Penelitian menggunakan data yang telah dikumpulkan sebelumnya dari wawancara dan observasi.
5) Tahap kelima: mengumpulkan data. Ini dilakukan dengan menggunakan satu kelompok rater independen
6) Tahap keenam: menganalisis data. Data kemudian dipertentangkan dengan hipotesis dan diuji untuk temuan baru yang tidak berhubungan dengan hipotesis
7) Tahap ketujuh: menggambarkan kesimpulan. Banyak kesimpulan ditarik dari penelitian, termasuk sebagai contoh, penyimpangan mahasiswa tercermin dalam prilaku kriminal dikalangan anak-anak.
8) Tahap kedelapan; melaporkan hasil. Bila analisis sudah lengkap, dan kesimpulan sudah digambarkan, McCord kemudian menulis hasilnya untuk publikasi.
b. Siklus penelitian etnografi
Menurut Spradley (1980:22-35) prosedur penelitian etnografi bersifat siklus,bukan bersifat urutan linear dalam penelitian ilmu sosial. Prosedur siklus penelitian etnografi mencakupenam langkah yaitu pemilihan suatu proyek etnografi, pengajuan pertanyaan etnografi, pengumpulan data etnografi, pembuatan suatu rekaman etnografi, analisis data etnografi, dan penulisan sebuah etnografi.
Berikut ini uraian masing – masing langkah :
1) Pemilihan suatu objek etnografi
Siklus dimulai dengan pemilihan suatu proyek etnografi. Barangkali yang pertama peneliti etnografi mempertimbangkan ruang lingkup dari penyelidikan mereka. Walcott (1967) memilih desa Kwakiult di British Columbia dengan sebuah populasi standar 125 orang. Disamping itu Jules Hendry juga melakukan penelitian tentang kebudayaanAmerika, dalam bukunya yang berjudul Cultur Agaist Man (1963).
Berikut ini ruang lingkup penelitian Jules Hendry :
| Scope of Research | Social Units Studied |
| Macro – Etnografi Micro – Etnografi | Complex sociey |
| Muliple communities | |
| A single community study | |
| Multiple social institution | |
| A single social institution | |
| Multiple social situation | |
| A single social situation |
2) Pengajuan pertanyaan etnografi
Pekerjaan lapangan etnograpi dimulai keika mulai mengajukan pertanyaan etnografi. Itu memperlihatkan bukti yang cukup ketika pelaksanaan wawancara, tetapi observasi yang sangat sederhana dan entri catatan lapangan pun melibatkan pengajuan pertannyaan.
Terdapat tiga jenis utama pertanyaan etnografi, masing – masing mengarah pada jenis observasi yang berbeda dilapangan. Semua jenis etnografi mulai dengan “ pertanyaan deskriptif” umum / luas seperti “siapa orang yang ada disini ?’’ “ apa yang mereka lakukan?” dan “apa latar fisik dari situasi sosial ini?”
Kemudian setelah penggunaan jenis pertanyaan ini untuk menuntun observasi, dan setelah analisis data awal, dilanjutkan dengan menggunakan “pertanyaan struktural” dan “pertanyaan kontras” untuk penemuan. Ini akan membimbing observasi agar lebih terfokus.
Dalam sebuah etnografi, seseorang dapat mengajukan sub – sub pertanyaan yang berhubungan dengan (a) suatu deskriftif tentang konteks, (b) analisis tentang tema – tema utama dan (c) interprestasi perilaku kultural.
3) Pengumpulan data etnografi
Dengan cara observasi partisipan anda dapat mengamati aktivitas seseorang, karakteristik fisik situasi sosial, dan apa yang akan menjadi bagian dari tempat kejadian. Anda akan memulai dengan melakukan observasi deskriptif secara umum, mencoba memperoleh suatu tinjauan terhadap situasi sosial dan yang terjadi disana. Kemudian setelah perekaman dan analisis data awal anda, anda akan mempersempit penelitian dan mulai melakukan observasi ulang dilapangan, anda akan mampu mempersempit penyelidikan anda untuk melakukan observasi selektif. Walaupun observasi andasemakin terfokus anda akan selalu melakukan observasi deskriftif umum hingga akhir study lapangan anda.
4) Pembuatan suatu rekaman etnografi
Tahap ini mencakup pengambilan catatan lapangan, pengambilan foto, pembuatan peta, dan penggunaan cara – cara lain untuk merekam observasi anda. Rekaman ini akan membantu membangunsebuah jembaan antara observasi dengan analisis. Sebagian analisis anda akan tergantung pada apa yang telah anda rekam.
5) Analisis data etnografi
Langkah berikutnya dalam siklus tidak perlu perlu menunggu hingga terkumpul banyak data. Peneliti etnografi menganalisis data lapangan yang dikumpulkan dari observasi partisipan untuk menemukan pertanyaan. Anda perlu menganalisis catatan – catatan lapangan anda setelah setiap periode pekerjaan lapangan untuk mengetahui apa yang akan dicari dalam observasi periode berikutnya dari observasi partisipan. Terdapat empat jenis analisis, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema.
Analisis domain yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian aau situasi sosial. Melalui pertanyaan umum dan pertanyaan rinci peneliti menemukan berbagai kategori aau domain tertentu sebagai pijakan penelitian selanjutnya.
Analisis taksonomi yaitu menjabarkan domain – domain yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya.
Analisis komponensial yaitu mencari ciri spesifik pada setiap strukur internal dengan cara mengontraskan antar elemen. Hal ini dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi melalui pertanyaan yang mengontraskan.
Analisis tema budaya, yaitu mencari hubungan diantara domain dan hubungan degan keseluruhan, yang selanjutnya dinyatakan kedalam tema – tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.
Seorang peneliti etnografi yang berpengalaman dapat melakukan bentuk – bentuk analisis berbeda ini secara simultan selama periode penelitian. Sedangkan peneliti pemula dapat melakukannya dengan cara berurutan, belajar melakukan masing – masing dalam putaran sebelum bergerak ke analisis berikutnya. Observasi partisipan dan perekaman catatan lapangan selalu diikuti oleh pengumpulan data, yang mengarah pada penemuan pertanyaan etnografi baru, pengumpulan data, catatan lapangan, dan analisis data lebih lanjut.
6) Penulisan sebuah etnografi
Penulisan sebuah etnografi memaksa penyelidik ke dalam suatu jenis analisis yang lebih intensif. Peneliti etnografi hanya dapat merencanakan dari awal perjalanan penyelidikan mereka dalam pengertian yang paling umum. Setiap tugas utama dalam tindakan siklus penelitian dianggap sebagai kompas untuk memlihara diperjalanan. Kesadaran terhadap siklus penelitian etnografi dapat memelihara dari kehilangan jalan bahkan dalam proyek penelitian yang sangat kecil. Peneliti etnografi yang menghabiskan beberapa jam sehari melakukan observasi partisipan secara proporsional akan memiliki sejumlah besar data lapangan.[4]
B. Grounded Theory
1. Pengertian Grounded Theory
Grounded theory merupakan metodologi baru dalam penelitian kualitatif. Grounded theory dicetuskan oleh Glasser dan Strauss yang tidak puas terhadap perumusan teori yang selama ini berkembang dalam ilmu sosial yaitu deduktif – spekulatif yang tidak didasarkan pada data lapangan. Mereka juga tidak puas dengan penelitian kualitatif pda saat itu yang lebih berkutat pada pemahaman mendalam tetapi tidak sampai merumuskan teori. Dalam rangka itulah grounded teori dilihat sebagai revolusi paradigma yang tentu saja memancing kontroversi baik dilingkungan para penganut peredigma kualitatf maupun paradigma kuantitatif karena ia berbeda dari keduanya.
Grounded theory merupakan seperangkat metode riset yang terdiri dari cara – cara pengumpulan dan analisis data, serta cara – cara pengolahan data yang tidak sama dengan penelitian kualitatif yang lain terutama adanya persyaratan sampling teoritis dan metode komparatif tetap. Sedangkan untuk pengumpulan data dan prosedur serta teknik penelitian lapangan grounded theory tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya.
Grounded theory merupakan metodologi yang berasal dari sosiologi yang menekankan pemahaman perilaku manusia dalam konteks sosial yang bertujuan pencari temuan teori menggunakan cara kerja induktif. Cara kerja induktif ini menunjukan bahwa teori dirumuskan melalui penelitian yang berbasis data lapangan.
Berbasis data lapangan itulah teori dibangun dan dikembangkan. Ada banyak data yang menjadi dasar perumusan teori, baik yang kualitatif maupun kuantitatif. Data itu dikumpulkan dengan cara pengamatan, wawancara, survei, dan analisi terhadap bahan tertulis atau hasil rekaman. Data dianalisis selama penelitian berlangsung sehingga dirumuskanlah sejumlah konsep yang merupakan unit analisi yang utama. Konsep – konsep itu dikategorisasikan, dikaitkan satu sama lain yag bersesuaian sehingga dhasilkan konsep – konsep yang lebih abstrak. Selanjutnya berdasarkan konsep yang dianalisis inilah dirumuskan tema – tema yang berujung pada perumusan teori.[5]
Jadi yang dapat kita fahami yaitu bahwa grounded theory merupakan suatu metode penelitian yang mana didalamnya terdapat proses pengolahan data yang bertujuan untuk merumuskan suatu teori dengan cara induktif yaitu berawal dari fenomena – fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat.
2. Ciri – ciri Grounded Theory
Menurut strauss & corbin (dalam basuki,2006), grounded theory memiliki cici-ciri sebagai berikut :
a. Grounded theory dibangun dari data suatu fenomene, bukan suatu hasil pengembangan teori yang sudah ada.
b. Penyusunan teori tersebut dilakukan dengan analisis data secara induktif bukan secara deduktif seperti analisis data yang dilakukan pada penelitian kuantitatif.
c. Agar penyususnan teori menghasilkan teori yang benar harus memenuhi 4 kriteria, yaitu cocok (fit), dipahami (understanding), berlaku umum (generality), pengawasan (control) juga dibutuhkan kepekaan teori ( theoretical sensitivity) dari peneliti. Kepekaan teori adalah kualitas pribadi peneliti yang memiliki pengetahuan yang mendalam sesuai bidang yang diteliti mempunyai pengalaman penelitian dalam bidang yang relavan. Dengan pengetahuan dan pengalamannya tersebut, peneliti akan mampu memberi makna terhadap data dari suatu fenomena atau kejadian dan peristiwa yang dilihat dan di dengar selama pengumpulan data . selanjutnya, peniliti mampu menyususun kerangka teori berdasarkan hasil analisis induktif yang telah dilakukan. Setelah dibandingkan dengan teori-teori lain dapat disusun teori baru.
d. Kemampuan memberi makna terhadap data dari peneliti sangat dipengaruhi oleh kedalaman pengetahuan, pengalaman, dan penelitian dari bidang yang relavan dan banyaknya literatur yang dibaca. Hal-hal tersebut menyebabkan peneliti memiliki informasi yang kaya dan peka atau sensitif terhadap kejadian atau peristiwa-peristiwa dalam penomena yang diteliti.
3. Prinsip – Prinsip Grounded Theory
Haigh (2014 :1-5) mengemukakan beberapa prinsip Grounded Theory sebagai metode ilmiyah sebagai berikut :
a. Perumusan masalah
Sesuai dengan teori AEI (Abductive Explanatory Inferentialism) tentang metode ilmiah, pemilihan dan perumusan masalah merupakan pusat terpenting dari penelitian ilmiah. Penetapan masalah ini merupakan constraint-composition theory “teori komposisi terbatas”. Secara singkat dinyatakan teori komposisi terbatas menyatakan bahwa suatu masalah meliputi semua batas pemecahannya, beserta harapan bahwa pemecahannya ditemukan. Dengan memasukan semua batasan dalam perumusan masalah, masalah tersebut memungkinkan peneliti untuk mengarahkan penyelidikan secara efektif dengan penunjukan jalan ke pemcahan itu sendiri. Contoh perumusan masalah yaitu suatu teori mengambil jalan tengah, berharap menemukan bagaimana kita perlu memodifikasi teori yang ada karena ketidak sesuaiannya dengan populasi atau isu atau bagaimana kita perlu menghasilkan suatu teori karena tidak ada suatu perspektif teoritis yang sesuai dengan isu tertentu.
b. Deteksi fenomena
Kegagalan menggambarkan perbedaan antara data dan fenomena ini mengarahkan pada perhitungan yang menyesatkan tentang hakikat ilmu pengetahuan, sebab merupakan fenomena khas, bukan data, bahwa teori kita dibangun untuk menjelaskan dan memprediksikan. Dengan demikian, teori harus dirumuskan, grounded theory harus diambil sebagai dasar dalam fenomena bukan data.
Fenomena secara relatif stabil, fenomena meliputi suatu cakupan ontologis yang bervariasi yang meliputi objek, keadaan, proses, dan peristiwa. Sedangkan data tidak sestabil fenomena. Data adalah rekaman atau laporan yang secara perseptual dapat diakses. Dengan demikian data dapat diamati dan terbuka bagi pemeriksaan publik. Pentingnya data berada dalam fakta bahwa data bertindak sebagai bukti bagi fenomena yang diteliti. Secara umum, metode statistik merupakan bantuan langsung dalam pendeteksian fenomena, tetapi bukan dalam kontruksi teori – teori yang bersifat menjelaskan.
c. Penurunan teori
Menrut Glaser dan Straus, grounded theory dikatakan muncul secara induktif dari sumber data yang sesuai dengan metode “constant comparison” atau perbandingan tetap. Sebagai suatu metode penemuan, metode perbandingan tetap merupakan campuran pengodean sistematis, analisi data, dan prosedur sampling teoritis yang memungkinkan peneliti membuat penafsiran pengertian dari sebagian besar pola yang berbeda dalam data dengan pengembangan ide – ide teoritis pada level abstraksi yang lebih tinggi, dari pada deskripsi data awal.
d. Pengembangan teori
Karena teori ditangkap dari genggaman hypothetico-deductive secara ortodok, peneliti bidang pendidikan dan ilmu sosial pernah peduli dengan pengujian teori berkenaan dengan kecukupan empiris mereka. Suatu praanggapan yang tak diucapkan dari praktik semacam itu adalah bahwa teori muncul dalam bentuk berbunga penuh, sesudah itu teori tersebut siap diuji. Sesungguhnya teroi semacam itu belum dikembangkan, dan peneliti tanpa sadar menyampaikan teori dengan kadar isi rendah tersebut kepada pengujian empiris prematur. Ini terjadi sebagai contoh dengan praktik biasa kita melalui pengujian kebermaknaan hipotesis nol dan sering terjadi manakala metode statistik regresi kompleks digunakan untuk menguji model klausal.
e. Penilaian teori
Penganut aliran empirisme yang dominan tentang penilaian dicirikan dalam pertunjukan hipotetiko-deduktif normal, dimana teori ditaksir kecukupan empirisnya dengan memastikan apakah prediksi testnya dibuktikan oleh data yang relevan.
Semntara itu Glaser dan Strauss tidak menyatakan perhitungan yang tepat menyangkut hakikat dan tempat pengujian teori dalam ilmu sosial, mereka menjelaskan bahwa ada yang lebih pada penilaian teori dari pada pengujian untuk kecukupan empiris. Kejelasan, konsistensi, sifat hemat, kepadatan, ruang lingkup, pengintegrasian, cocok untuk data, kemampuan menjelaskan, bersifat prediksi, harga heuristik, dan aplikasi semua itu disinggung oleh Glaserdan Strauss sebagai kriteria penilaian yang bersangkutan, walaupun mereka tidak mengerjakannya dalam suatu pandangan yang koheren tentang penilaian teori.
f. Grounded theory yang direkonstruksikan
Walaupun ingat akan asal ahli pragmatisme grounded theory sebagai suatu rekontruksi filosofis, tapi tidak harus difahami sebagai suatu laporan yang akurat dari perhitungan Glase dan Strauss tentang grounded theory. Sama halnya dengan kontruksi suatu makalah yang merupakan kelengkapan suatu penelitian dibandingkan perhitungan naratif penelitian tersebut, maka rekonstruksi filosofis metode merupakan konstruksi yang menguntungkan dibanding panduan terpercaya pada perumusan asli dari metode.
4. Proses Analisis Data
Karena hasil akhir model grounded theory adalah suatu theori baru maka tantangan utamanya adalah pada ketelitian peneliti dan pada ketepatan memilih subjek penelitian. Ketelitian mutlak diperlukan dalam model grounded theory dalam rangka menegakkan rigor penelitian dan keakuratan teori yang akan dibentuk. dalam hal pemilihan subjek pun harus benar-benar sesuai dan memiliki keterkaitan yang optimal secara teoretis (theoretical sampling) dengan central phenomenon. Suatu hal yang sangat esensial dalam model grounded theory, yaitu proses analisis data yang merupakan kekuatan dari model ini. Proses analisis data dalam model grounded theory sudah sistematik dan terstandar. Creswell menyebutkan beberapa tahapan proses analisis data grounded theory, diantaranya :
a. Open coding
Dalam open coding, peneliti menyususn informasi inisial kategori mengenai fenomena yang hendak diteliti dengan melakukan pemilihan informasi (segmenting informasion). Kategori diperoleh melalui proses analisis yang sama dengan jalan membuat perbandingan denagn melihat kesamaan dan perbedaan yang digunakan untuk menghasilkan konsep – konsep yang lebih rendah.[6] Dalam setiap kategori, peneliti mencari dan menemukan beberapa propeti atau sub-sub kategori dan memilah data untuk digolongkan kedalam dimensi-dimensinya atau menunjukkan kemungkinan kemungkinan yang ekstrem dan suatu kontinum dari properti tersebut.
Menurut koentjoro (2006), open coding berisi kegiatan memberi nama mengategorisasikan fenomena yang diteliti melalui proses penelaahan yang yang teliti dan dilakukan secara teliti serta mendetail dengan dengan tujuan untuk menemukan kategorisasi fenomena yang diteliti. Hasil akhir dari kegiatan adalah didapatnya kategori-kategori umum (tema=pola umum) yang mampu mempresentasikan sebanyak mungkin gejala atau fenomena yang diteliti. Kategori-kategori ini harus diurai secara terperinci berdasarkan ciri-cirinya (property); dimensi besarannya (dimension), faktor pendukung atau yang memengaruhi (supportive), dan contoh nyatanya (example).
Tabel 5.2 contoh open coding
| Kategori | Properti | Dimensi |
| Warna | Intensitas | Terang-gelap Terang-gelap |
| mengamati | Durasi Frekuensi Intensitas Jumlah | Singkat-lama Jarang-sering Rendah-tinggi Sedikit-banyak |
b. Axial coding
Dalam axial coding peneliti menyusun dan mengaitkan data setelah proses yang dilakukan setelah open coding. Susunan data ini dipresentasikan dengan menggunakan pradigma coding atau diagram logika yang diidentifikasikan oleh peneliti sebagai central phenomenon, mengekplorasi hubungan sebab akibat, menspesifikasikan strategi-strategi, mengidentifikasikan konteks dan kondisi yang memperkeruh (intervening condition), dan mempengaruhi konsekuensi-konsekuensi dari fenomena yang diangkat.
Menurut koentjoro (2006), axial coding merupakan prosedur yang diarahkan untuk melihat keterkaitan antara kategori-kategori yang dihasilkan melalui open coding. Terdapat beberapa kondisi yang dapat digunakan untuk melihat saling keterkaitan tersebut, diantaranya adalah hal-hal tersebut.
1) Kondisi yang menjadi penyebab ( causal conditions)
2) Fenomena utama (central phenomenon)
3) Konsekuensi atau hasil dari suatu aksi atau interaksi (consequences)
4) Aksi atau interaksi atau strategi untuk merespon atau menangani satu fenomena (strategies)
5) Konteks atau situasi tertentu tempat yang mempengaruhi terjadinya aksi, interaksi atau strategi (context)
6) Intervening conditions atau structural conditions yang memfasilitasi atau menghambat dikembangkan suatu strategi tertentu.
Tabel 5.3 contoh axial coding
| Causal conditions | Phenomenon |
| Pata tulang Karakteristiknya : -multiple fractures -rasa sakit -patah dua jam yang lalu -jatuh dari pohon | Rasa sakit Dimensinya : -intensitas: tinggi -durasi : terus-menerus -lokasi : paha kanan -pertolongan : lama Potensi infeksi : tinggi |
| Pain management context Pada situasi sakit yang : intens terasa terus menerus, terletak di paha kanan, harus menunggu lama untuk memperoleh pertolongan medis, dan potensi terjadi infeksi tinggi | |
| Trategies for pain management | Intervening condition |
| -kaki yang patah dicoba dibungkus dengan kayu yang diikatkan, sehingga bagian yang patah tidak berubah posisi -menjaga agar badan terasa nyaman dan hangat | -tidak terlatih dalam melakukan pertolongan pertama -selimut tidak tersedia -puskesmas jaraknya cukup jauh |
c. Selective coding
Dalam selective coding, peneliti melakukan identifikasi alur cerita (story line) dan menulis cerita yang mengaitkan kategori-kategori dalam model axial coding. Dalam tahap ini, dugaan atau hipotesis di presentasikan secara spesifik.
Menurut koentjoro (2004), selective coding merupakan satu proses untuk menyeleksi kategori pokok, kemudian secara sistematis menghubungkannya dengan kategori-kategori yang lain. Proses ini secara langsung akan menvalidasi keterkaitan antara kategori-kategori yang berhasil di identifikasi. Merupakan suatu proses rekonseptualisasi kategori pokok dalam satu cerita atau narasi. Narasi ini diarahkan untuk menggambarkan dan menjelaskan dinamika fenomena utama yang menjadi fokus penelitian dalam satu bentuk yang integratif. Dari deskripsi ini, teori dihasilkan.
d. Conditional matrix
Akhirnya, penelitian dapat mengembangkan dan menggambarkan matriks kondisional yang mengaitkan kondisi sosial, sejarah, dan ekonomi yang memengaruhi central phenomenon.
Hasil akhir dari keempat proses tersebut adalah sebuah teori yang dirumuskan oleh peneliti berdasarkan satu fenomena yang mendasari. Batasan teori tersebut bergantung pada batasan fenomena yang diangkat.[7]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa jenis penelitian yang dapat digunakan salah satunya yaitu penelitian etnografi dan Grounded Theory. Yang mana penelitian etnografi merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif yang mana wilayah kajiannya difokuskan pada aspek budaya manusia baik itu dalam penggunaan bahasa, interaksi maupun fenomena – fenomena sosial lainnya yang terjadi di kehidupan sehari – hari. Cara pengumpulan data dalam penelitian etnografi sendiri terdiri dari tiga cara yaitu melalui observasi, wawancara da dokumentasi.
Ciri khas utama dari penelitian etnografi sendiri ialah berupa uraian tebal dan mendalam terkait suatu fenomena yang berhubungan dengan budaya manusia.
Prosedur penelitian etnografi sendiri terbagi menjadi dua cara yaitu berdasarkan urutan linear dalam penelitian ilmu sosial dan siklus penelitian etnografi, akan tetapi prosedur yang lazim digunakan oleh peneliti etnografi ialah siklus penelitian.
Sedangkan Grounded Theory merupakan suatu metode penelitian yang mana didalamnya terdapat proses pengolahan data yang bertujuan untuk merumuskan suatu teori dengan cara induktif yaitu berawal dari fenomena – fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat. Proses analisis data sendiri meliputi beberapa tahap diantaranya yaitu pen coding, axial coding, selective coding, dan conditional matrix.
B. Saran
Penelitian merupakan kerangka kerja yang sifatnya ilmiah maka dalam proses penelitian diperlukan data – data yang valid dan teruji kebenarannya, maka untuk mewujudkan data yang valid diperlukan cara yang benar dalam pengumpulan data – data tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Emzir.2010.Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta:Rajawali Pers.
Herdiansyah,Haris.2010.metodelogi penelitian kualitatif.jakarta: selembah
humanika.
J Moleong,Lexy.2004.Metodologi Penelitian Kualitatif .Bandung:PT Remaja
Rosdakarya.
Mulyana,Deddy.2003.Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung:PT Remaja
Rosdakarya.
Putra,Nusa.2013.Penelitian Kualitatif IPS.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kahadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah, dan inayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini,dengan judul yang diangkat yaitu mengenai “Penelitian Etnografi dan Grounded Theory“ yang alhamdulillah dapat diselesaikan tepat pada waktunya, tak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada sahabatnya, dan kepada umatnya termasuk kita hingga akhir zaman.
Penyusun berharap melalui pembahasan mengenai dua penelitian kualitatif ini, dapat memberikan manfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Tidak lupa penyusun ucapkan terimakasih kepada :
1. Dosen pengampuh yaitu Yeti Nurizatti,M.Si
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari rekan-rekan sangat penyusun harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya.
Cirebon, 16 februari 2014
Penyusun
PENELITIAN ETNOGRAFI
DAN
GROUNDED THEORY
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan IPS
Dosen Pengampu : Yeti Nurizatti,M.Si
Disusun Oleh :
Ani Surani
Asep Samsul Ma’arif
Ayu Sri Hasanah
Erna Sakinah
Yunita
Adam
Kelompok 2
TARBIYAH / SEMESTER 6 / T-IPS B /
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2014
[1] Clifford geertz, the interpretation of culture dikutif oleh deddy mulyana, metodologi penelitian kualitatif, bandung :PT. Remaja rosdakarya 2003, hal 161
[6] Prof Dr Lexy J Moleong M.A,Metodoogi Penelitian Kualitatif ,Bandun:PT Remaja Rosdakarya, 2004,Hlm 71
No comments:
Post a Comment