Kemarin tepatnya hari kamis tanggal 10 Desember 2015.
Sejumlah kalangan ormas turun aksi menuntut pemerintah tentang banyak hal
menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM) yang hingga detik ini masi banyak kita temukan
pelenggaran-pelanggarannya. Beberapa
lembaga kemahasiswaan pun terlihat berpartisipasi dalam demonstrasi memperingati HAM .
Sebagai manusia terdidik dan lebih mengetahui kondisi
realitas masyarakat dan bangsanya, mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab
yang sungguh berat dan kompleks. Kompleksitas problem yang menghantui Mahasiswa
diakibatkan tidak hanya dari luar, namun lebih besar diakibatkan oleh
lingkungan Perguruan Tinggi itu sendiri.
Pasalnya di bulan yang sama, tepatnya tanggal 13 November
2015 dimana hari itu merupakan genap setahun peristiwa yang memilukan bagi
Intitusi Pendidikan UNM dan pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Pihak
Kepolisian. Sejumlah aliansi lembaga kemahasiswaan UNM turun aksi memperingati
Insedent 13 November 2014 (Instin). Termasuk Lembaga Kemahasiswaan HIMAPRODI
UPP Makassar. Dengan maksud menyuarakan penolakan aksi terkutuk Pihak Aparat
Kepolisian yang menyerang masuk kedalam kampus dan menghancurkan sejumlah
fasilitas. Menghajar siapa saja yang ditemuinya baik mahasiswa, wartaswan,
bahkan beberapa dosen pun menjadi korban tindak kekerasan Kepolisian yang
sangat tidak manusiawi.
Naasnya mahasiswa Jurusan PGSD FIP UNM yang turun aksi dalam
memperingati INSTIN tersebut, bukannya
mendapat respon yang baik dari pihak kampus, tapi malah justru dilecehkan dan
dihujat oleh Ketua Prodi Jurusan PGSD. Foto-foto aksi mereka ditempel di
hadapan ruangan PRODI dan dibawahnya bertuliskan “Inikah cerminan Mahasiswa
Pendidikan”. Usaha yang dilakukan oleh Pejabat PRODI PGSD ini merupakan
serangan psikologi untuk membungkam
mahasiswa dan menjauhkan dari peran dan tanggung jawab mahasiswa. Merupakan
bentuk pelanggaran HAM yakni mengungkung mahasiswa untuk tidak melakukan
kegiatan demokrasi secara perlahan.
Selain itu, jika kita melihat kondisi kampus Fakultas Ilmu
Pendidikan UNM. Dimana kalian akan melihat konstruksi bangunannya yang mewah,
Gedung Fakultasnya kinclong berlapis baja berwarna hijau, merupakan proyek yang
menghabiskan anggaran pendidikan puluhan juta rupiah. Dimana jika kita kritisi
sunggah tidak memberi manfaat sama sekali bagi kalangan Mahasiswa FIP sendiri.
Sementara pada tempat yang lain, kalian akan menemukan
toilet-toilet yang mampet, rusak tak terurus dan bau. Pembangunan yang
dilakukan hanya untuk para kalangan elit birokrasi kampus, sementara
kebutuhan-kebutuhan mahasiswa dilupakan. Padahal substansi Institusi Pendidikan
adalah untuk menyelenggarakan proses pendidikan terhadap mahasiswanya.
Bagaimana munkin mahasiswa dapat belajar dengan baik, jika fasilitas-fasilitas yang menopang itu
tidak disediakan?
Kalian akan melihat lapangan Tennis yang hampir setiap hari
digunakan oleh orang-orang luar karena mereka mampu membayar iuran. Buku-buku
tua di perpustakaan yang jarang disentuh oleh mahasiswa karena letaknya yang
jauh dari aktivitas perkuliahan mahasiswa. Sementara ditempat lain ada swalayan mini yang sengaja ditempatkan
dekat dengan aktivitas perkuliahan mahasiswa. Sehingga jika kita mau lihat
presentase kunjungan mahasiswa terhadap antara perpustakaan dan Swalayan mini ,
maka diperoleh nilai yang lebih banyak dikunjungi mahasiswa adalah Swalayan
mini. Itu karena letaknya yang strategis.
Penyelenggara Pendidikan FIP UNM belum bersungguh-sungguh
menyelanggarakan pendidikan untuk mahasiswanya. Dimana yang kita lihat,
kebutuhan sejati mahasiswa sengaja dijauhkan dan kebutuhan yang sama sekali
tidak menunjang kualitas pendidikan mahasiswa sengaja didekatkan.
Belum lagi kalau kita melihat jadwal perkuliahan mahasiswa
yang dimulai pukul 07.30- 18.00, sementara Ruangan PRODI tempat menyimpan
fasilitas perkuliahan seperti Proyektor
baru buka pada pukul 08.00., sehingga para pendidik (dosen) mengalami kesulitan
untuk memberikan kuliah yang mendapat jadwal
jam pertama. Penyebanya Proyektor belum bisa dipinjam.

No comments:
Post a Comment