Monday, February 1, 2016

Hak Asasi Manusia yang Terkoyak di Negeri Sendiri



Kemarin tepatnya hari kamis tanggal 10 Desember 2015. Sejumlah kalangan ormas turun aksi menuntut pemerintah tentang banyak hal menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM) yang hingga detik ini masi banyak kita temukan pelenggaran-pelanggarannya.  Beberapa lembaga kemahasiswaan pun terlihat berpartisipasi  dalam demonstrasi memperingati HAM .

Sebagai manusia terdidik dan lebih mengetahui kondisi realitas masyarakat dan bangsanya, mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab yang sungguh berat dan kompleks. Kompleksitas problem yang menghantui Mahasiswa diakibatkan tidak hanya dari luar, namun lebih besar diakibatkan oleh lingkungan Perguruan Tinggi itu sendiri.

Pasalnya di bulan yang sama, tepatnya tanggal 13 November 2015 dimana hari itu merupakan genap setahun peristiwa yang memilukan bagi Intitusi Pendidikan UNM dan pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Pihak Kepolisian. Sejumlah aliansi lembaga kemahasiswaan UNM turun aksi memperingati Insedent 13 November 2014 (Instin). Termasuk Lembaga Kemahasiswaan HIMAPRODI UPP Makassar. Dengan maksud menyuarakan penolakan aksi terkutuk Pihak Aparat Kepolisian yang menyerang masuk kedalam kampus dan menghancurkan sejumlah fasilitas. Menghajar siapa saja yang ditemuinya baik mahasiswa, wartaswan, bahkan beberapa dosen pun menjadi korban tindak kekerasan Kepolisian yang sangat tidak manusiawi.

Naasnya mahasiswa Jurusan PGSD FIP UNM yang turun aksi dalam memperingati  INSTIN tersebut, bukannya mendapat respon yang baik dari pihak kampus, tapi malah justru dilecehkan dan dihujat oleh Ketua Prodi Jurusan PGSD. Foto-foto aksi mereka ditempel di hadapan ruangan PRODI dan dibawahnya bertuliskan “Inikah cerminan Mahasiswa Pendidikan”. Usaha yang dilakukan oleh Pejabat PRODI PGSD ini merupakan serangan psikologi  untuk membungkam mahasiswa dan menjauhkan dari peran dan tanggung jawab mahasiswa. Merupakan bentuk pelanggaran HAM yakni mengungkung mahasiswa untuk tidak melakukan kegiatan demokrasi secara perlahan. 

Selain itu, jika kita melihat kondisi kampus Fakultas Ilmu Pendidikan UNM. Dimana kalian akan melihat konstruksi bangunannya yang mewah, Gedung Fakultasnya kinclong berlapis baja berwarna hijau, merupakan proyek yang menghabiskan anggaran pendidikan puluhan juta rupiah. Dimana jika kita kritisi sunggah tidak memberi manfaat sama sekali bagi kalangan Mahasiswa FIP sendiri.

Sementara pada tempat yang lain, kalian akan menemukan toilet-toilet yang mampet, rusak tak terurus dan bau. Pembangunan yang dilakukan hanya untuk para kalangan elit birokrasi kampus, sementara kebutuhan-kebutuhan mahasiswa dilupakan. Padahal substansi Institusi Pendidikan adalah untuk menyelenggarakan proses pendidikan terhadap mahasiswanya. Bagaimana munkin mahasiswa dapat belajar dengan baik,  jika fasilitas-fasilitas yang menopang itu tidak disediakan?

Kalian akan melihat lapangan Tennis yang hampir setiap hari digunakan oleh orang-orang luar karena mereka mampu membayar iuran. Buku-buku tua di perpustakaan yang jarang disentuh oleh mahasiswa karena letaknya yang jauh dari aktivitas perkuliahan mahasiswa. Sementara ditempat lain  ada swalayan mini yang sengaja ditempatkan dekat dengan aktivitas perkuliahan mahasiswa. Sehingga jika kita mau lihat presentase kunjungan mahasiswa terhadap antara perpustakaan dan Swalayan mini , maka diperoleh nilai yang lebih banyak dikunjungi mahasiswa adalah Swalayan mini. Itu karena letaknya yang strategis. 

Penyelenggara Pendidikan FIP UNM belum bersungguh-sungguh menyelanggarakan pendidikan untuk mahasiswanya. Dimana yang kita lihat, kebutuhan sejati mahasiswa sengaja dijauhkan dan kebutuhan yang sama sekali tidak menunjang kualitas pendidikan mahasiswa sengaja didekatkan. 

Belum lagi kalau kita melihat jadwal perkuliahan mahasiswa yang dimulai pukul 07.30- 18.00, sementara Ruangan PRODI tempat menyimpan fasilitas perkuliahan seperti Proyektor baru buka pada pukul 08.00., sehingga para pendidik (dosen) mengalami kesulitan untuk memberikan kuliah yang mendapat jadwal  jam pertama. Penyebanya Proyektor  belum bisa dipinjam.


No comments: