Kematian bagi ssebagian orang
merupakan sesuatu yang menakutkan dan selalu dihindari. Kecenderungan hidup
abadi dengan segala fasilitas kemewahan rupanya menjadi candu yang membawa
kenikmatan sehinngga tidak ingin terpisah darinya. Tapi, apakah kematian
merupakan sesuatu yang bisa dihindari atau itu menjadi sebuah keniscayaan???.
Kematian seringkali diartikan
sebagai momentum terpisahnya ruh dan jasad. Mari kita kritisi sedikit tentang
definisi diatas. Ketika manusia mati maka jasadnya akan hancur dan akan kembali
kepada unsure-unsur yang membentuknya, sedangkan ruh akan kembali kepada
pemiliknya yakni Tuhan. Lantas jika demikian maka dimana kita setelah
kematian?. Siapa yang dihakimi oleh Tuhan?. Definisi diatas tentang kematian
merupakan definisi yang kurang tepat, sebab menghilangkan sebagian pada diri
manusia yakni jiwa. Jiwa bukanlah ruh dan bukan pulah jasad, melainkan adalah
mediator antara jasad dan ruh dan sekaligus menjadi pengejewantahan diri manusia
tersebut.
Untuk memperoleh definisi
kematian, mari kita mengulas lawan kata dari mati yakni hidup. Hidup merupakan
sesuatu yang kita rasakan seperti saat sekarang ini, sadar akan keberadaannya,
memiliki rasa, terbatas dengan banyak hal, dan kecenderungan untuk tampil
sempurna. Kesadaran selalu menuntun kita untuk melakukan apa yang musti
dilakukan, namu dalam melakukan apa yang hendak kita lakukan kita selalu
dibatasi oleh banyak hal. Kita akan sulit melakukan sesuatu hal jika perut ini
lapar dan haus, kita tidak bisa bepergian kesatu tempat ke tempat yang lainnya
jika kita tidak memiliki kekuatan dan alat
transportasi.
Berhentinya jantung berdetak pada
diri manusia dan keluar masuknya udara menjadi tanda kematian pada seseorang.
Lantas apa yang terjadi ketika kematian datang pada manusia. Apakah manusia
tetap dalam sadarnya, keterbatasan dan kecenderungannya untuk menyempurna?.
Tuhan berfirman “jangan kamu kira mereka
yang terbunuh di jalanku itu mati, mereka hidup dan mendapatkan nikmat di
sisiKu”. Tuhan menginformasikan kepada kita bahwa manusia yang mati
(maksudnya adalah berhentinya detak jantung) tetap hidup dan terus menyempurna
dengan kesadarannya dan terbatas pada wilayah alam yang berbeda yakni diatas
alam yang kita huni saat ini.
Alam kematian, merupakan alam
bagi orang-orang yang telah meninggal/mati atau merupakan alam yang berada
diatas alam duniawi. Alam ini lebih dekat dari kesempurnaan yang menjadi
fitrahnya manusia untuk menuju pada kesempurnaan. Dimana kesadaran akan lebih
tajam dari sebelumnya, perasaan lebih sensitive namun keterbatasan lebih
kurang, sebab pada ala mini bukan lagi alam materi melainkan alam non materi.
Tuhan berfirman” Pada hari itu mereka
akan menyesali perbuatan mereka dan memohon kepada Tuhan agar dikembalikan ke
dunia untuk memperbaiki diri mereka”.
Dari firman Tuhan di atas,
menginformasikan kepada kita bahwa ada manusia yang memasuki alam kematian
dengan kondisi yang tidak siap, sehingga mereka (yang tidak siap itu) musti
memaksakan diri untuk siap pada level itu. Dimana pada level kematian/alam
kematian semakin dekat dengan kesempurnaan dan kesempurnaan erat kaitannya
dengan kesucian Ilahi karena Dialah pemilik kesempurnaan itu. Sehingga bagi
orang-orang yang tidak siap memasuki alam kematian lalu mati dalam artian orang
tersebut jauh dengan kesucian Ilahi maka harus menerima konsekuensi
pembersihan/ penyucian diri. Tentunya berbeda dengan penyucian pada alam
duniawi dengan alam kematian, dimana pada alam itu perasaan begitu peka
sehingga rasa sakit begitu luar biasa pula yang diterima dalam penyucian
tersebut. Itulah sebanya orang yang tidak siap memasuki alam kematian lalu mati
memohon kepada Tuhan untuk dikembalikan di dunia.
Dari penjelasan di atas kita
telah memperoleh gambaran mengenai kematian dan jika kita coba untuk
mendefinisikannya maka kita bisa menyimpulkan bahwa kematian merupakan
perpindahan alam manusia dalam proses penyempurnaannya dimana segalah fitrah
yang ada pada diri manusia akan muncul dan dibarengi dengan kesadaraan yang
lebih meningkat. Pertanyaannya kemudian adalah bisakah manusia di alam duniawi
ini memasuki alam kematian (dalam arti segala fitrah teraktual dan kesadaran
lebih tajam) tanpa harus melawati kematian (berhentinya jantung berdetak) ???.
Mari kita kembali pada firman
Tuhan di atas ” Pada hari itu mereka akan
menyesali perbuatan mereka dan memohon kepada Tuhan agar dikembalikan ke dunia
untuk memperbaiki diri mereka”. Hal ini menghimbau kepada kita bahwa
manusia harus menyiapkan dirinya dalam memasuki alam kematian agar kita yang
masi hidup di dunia ini terhindar dari penyesalan yang tiada taranya.
Menyiapkan diri dalam memasuki alam kematian berarti mensejajarkan diri dengan
orang-orang yang sudah berada di alam kematian tersebut bedanya adalah kita
masi dilekati oleh jasad. Dengan begitu berarti manusia yang masih hidup di
dunia biasa memasuki alam kematian/ mensejajarkan diri dengan orang-orang sudah
mati.
Kesedaran dapat diasah sehingga
lebih tajam, begitu pula dengan perasaan. Bukan kah itulah tujuan manusia
diperintahkan untuk terus-menerus mensyukuri nikmat-Nya dan senantiasa berzikir
mengingat tuhannya dikala pagi dan petang?. Lantas bagaimana dengan keterikatan
manusia yang hidup di dunia akan hal persoalan perut yang banyak hal membatasi
ruang gerak manusia?.
Ada salah satu cerita sufi yang
menarik kita simak. Dalam suatu wilayah ada seorang pengembara yang arif da
bijaksana atau kita kenal saat ini dengan istilah sufi, memasuki sebuah wilayah
dan berjumpah dengan seorang pemuda. Mereka berbincang-bincang tentang banyak
hal hingga membuat pemuda tersebut kagum dibuatnya dan hendak berguru pada sufi
tersebut. Sang sufi bertanya sebelum menjawab kesediannya untuk menjadi guru
pemuda tersebut “Apa definisi makan?”. Pemuda tersebut tersebut heran tidak
tahu maksud kenapa diajukan pertanyaan seperti ini. Pemuda pun kemudian
menjawab “ Makan adalah memasukkan sesuatu yang bisa dimakan ke dalam mulut
lalu dikunya-kunya hingga halus kemudian ditelan hingga masuk kedalam perut
sampai akhirnya kita merasa kenyang”. Sang sufi tersenyum dan menjawab “
Jawabanmu belum tepat, artinya kamu belum bisa jadi muridku. Jika kamu hendak
jadi muridku pulanglah, carilah terlebih dahulu jawabannya dan kembalilah
padaku”. Hari demi hari pemuda terus mencari jawabannya hingga akhirnya mengumpulkan
beberapa jawaban dengan harapan sesuai dengan harapan sang Sufi. Dari sekian
banyak jawaban yang dilontarkan pemuda tersebut kepada sang Sufi tak satu pun
yang diterimahnya. Lalu pemuda itu petus asa dan bertanya langsung kepada sang
Sufi definisi makan itu. Sang sufi tersenyum lalu menjawab “ Makan adalah
kegiatan mengisi stamina untuk mengabdi kepada Tuhan”.
Dari cerita diatas mengingatkan
kepada kita memperhatikan sesuatu dari sudut pandang hakekatnya, termasuk
persoalan makan/ perut. Bukannya kita diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan
sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini untuk menebarkan kasih dan sayang antar
sesame agar tercipta kondisi lingkungan yang damai dan tentram. Tujuan semua
manusia. Menyangkut persoalan perut merupakan salah satu aspek dari sekian
banyak yang membatasi manusia. Dan merupakan salah satu aksiden dari hawanafsu.
Itulah sebabnya pada bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk berpuasa guna melatih
pengendalian diri kita untuk tidak terlalu tergantung pada makan dan minum.
Pertanyaannya adalah adakah manusia yang tetap hidup di dunia tanpa makan dan
minum?.
Hidup di dunia harus memiliki
fisik dan fisik membutuhkan energy dan energy
salah satunya bisa diperoleh dari makanan. Energy dari aspek yang
lainnya adalah dari sisi Tuhan. Mari kita tengok kisah Sitti Maryam As yang
diasingkan oleh orang-orang dikarenakan hamil tanpa ada ayah yang sah. Ketika
itu tidak ada satu orang pun yang memberinya makan dan minum hingga dia putus
asa dan memohon kepada tuhan mungkin mati lebih baik untukku. Lalu kemudian
datanglah jibril yang memberinya makan.
Ini membuktikan bahwa ada manusia
yang mampu berjalan diatas bumi meskipun tidak makan dan minum secara materi.
Sebab tujuan makan dan minum hanyalah merupakan isi ulang energy. Dan Tuhan
telah menggambarkan pemberian energy itu kepada diri seorang Sitti Maryam As.
Jika demikian maka jelaslah bahwa
mati sebelum mati bisa dilakukan guna melepaskan ikatan-ikatan dunia yang
membelenggu dalam penyempurnaan diri. Penulis dengan tulisan ini bukan berarti
sudah melepaskan ikatan-ikatan duniawi. Akan tetapi hal ini merupakan refleksi
dari ceramah-ceramah sang Guru dengan daya tangkap penulis yang tergolong masih
lemah. Semoga dapat memantik nalar kritis para pembaca.
Makassar, 29 Mei 2015
Hery Sitakka
No comments:
Post a Comment