Friday, May 27, 2016

Ketika Kasih Sayang Menghilang


Kasih Sayang yang Hilang

Bagi teman-teman yang merasa kurang di sayangi dan mendapat perhatian. Aku punya sedikit tips untuk kalian, semoga aja bermanfaat. Harapannya agar kalian lebih semangat dan selalu optimis menjalani lika liku kehidupan dan yang lebih penting tidak ada lagi kasus bunuh diri akibat putus asa.
Semuanya berawal dengan bunyi handpone di saku celana. Ternya ada panggilan masuk. Di bawah tulisan Nokia pada layar, tertera nama Sakmang sedang memanggil. Aku pun menjawab panggilan kawanku ini. Waktu itu aku sedang mengendarai, tapi karena aku pengguna jalan yang baik. Sebelum aku menjawab panggilan telepon, aku arahkan motorku ketepi jalan. Sambil mencaritempat berlindung dari panasnya mentari. Selain itu, aku juga khwatir dijambret orang jika mengangkat telpon sambil mengemudi.  Seperti kesialan yang telah menimpah teman aku yang bernama Agung dan banyak lagi korban lainnya. Aku sudah terbiasa membayangkan dan menempati diriku pada kisah teman2 ku yang mengalami kesialan. Terkadang hal itulah  membuatku  jadi ikut-ikutan troma, dan membuatku lebi hati-hati dan selalu waspada.
Aku dapat merasakan orang-orang yang mengalami kesialan seperti temanku Agung. Bagaimana sakitnya dipaksa kehilangan barang yang kita butuhkan dan atau munkin dicintai. Apa lagi barang itu terhitung mahal dari segi financial. Lumayanlah untuk buat orangtua naik pitam. Sudah dijambret, sampai di rumah lanjut dimarahi oleh Orangtua. Mungkin inilah yang dimaksud peribahasa sudah jatuh dari tangga, merasa sakit lanjut ketimpah tangga. Persis apa yang dibahasakan oleh Alwi Rachman dalam bukunya Ruang Sadar Tak Terpagar ”Kesialan berlanjut dengan kesialan berikutnya”.
Melalui handpon ku, disebrang sana Sakmang meminta tolong untuk ditemani jalan ke MTC. Aku terdiam sejenak mengingat-ingat jadwal agendaku hari ini. Gemerisik dedaunan bergemah ditelingaku, membantuku mengingat jadwal agenda yang kubuat semalam. waktu itu ketika membaca ulang jadwal agendaku tetiba saja suara gemerincing gelas yang pecah akibat jatuh ke lantai,  mirip dengan suara dedaunan yg dihempas angin. Itulah yang membuat daya ingatku lebih cepat, sehingga agendaku pun kutahu urutannya. Pada agendaku di soreh hari, ternyata aku harus ke Toko Agung untuk membeli pesanan saudara di Kampung. Mengingat agenda tersebut aku pun mengiyakan permintaan Sakmang, dan kami sepakat bertemu di Warkop Bundu selepas shalat azhar.
Seperti biasa ketika adzan berkumandang, aktifitas apa pun itu akan selalu kutanggalkan. Adzan bagiku adalah bukan sekedar panggilan untuk sholat berjamaah. Suara itu adalah seruan kebaikan, mengingatkan dan sekaligus mengajak sholat secara berjamaah. Suatu kebaikan menurut pesan almarhum Ayahku tidak bagus kalau ditunda-tunda. Makanya setiap kali adzan berkumandang, aku langsung beranjak.
Sehabis shalat Azhar aku pun langsung bergegas menuju tempat yang telah aku sepakati dengan Sakmang. Di atas kuda besi ku aku melaju di jalan raya, melintasi kampus UIN yang sementara tahap pembangunan yang megah. Lalu sebelum UNISMU, aku belok kiri melawati jalan Tala Salapang. Kuperhatikan sepintas menara IQRA UNISMU, begitu megah, kokoh dan nuansa keilmuan yang begitu kental.  Aku sedikit iri dibuatnya, pasalnya kampus ku dengan menara Phinisi nya hanya dijadikan tempat berkecolnya para birokrasi kampus atau urusan administrasi belaka. Fatalnya kami seakan dipaksa untuk ikutan bangga dengan menara Phinisi tersebut. Tapi mana munkin aku bangga dengan semua itu jika semua itu hanya untuk birokrasi. Sementara kami yang mahasiswa harus terima melakukan perkuliahan di ruangan-ruangan yang jauh dari Phinisi, panas tanpa kipas angin apalagi ace. Hahahaha, inilah mental birokrasi kami. Mengaku pelayan mahasiswa yang bermental raja yang harus dilayani oleh mahasiswa. Kasihan, mereka kehilangan jati diri!
Belum lagi dengan dosen, mereka dipercayakan mendidik mahasiswa. Namun terkadang menjaga jarak dengan mahasiswa. Memasang kewibawaan, agar dihormati dan disegani oleh mahasiswa. Jika hal itu belum berhasil, mereka akan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Mahasiswa jangan lagi berharap dapat lulus pada mata kuliahnya.
Akhirnya aku pun tiba di Warkop Bundu. Seperti biasa, aku selalu mengamati kondisi sekitar sebelum aku memasuki tempat itu. Pendangan  kuarahkan kesegala penjuru ruangan dan bergerak inci perinci. Sampai kupastikan tidak ada lagi yang terlewatkan dari pengamatanku. Rasa antisipasi ini semakin meningkat aku rasakan beberapa terakhir ini. Munkin hal ini dipicu dengan peristiwa Terorisme di Serina beberapa hari yang lalu. Jangan sampai ditempat ini juga ikut terjadi peristiwa yang mengerikan dan aku jadi korban. Apa pun alasannya mereka yang tergabung dalam lingkaran terorisme, mereka tidak lebih orang pengecut dan sangat-sangat tidak manusiawi.
Pandangan ini berhenti pada sosok objek pria, duduk pada sudut ruangan sambil menikmati secangkir kopi hitam dengan sesekali mengepulkan asap rokok ke udara. Aku pun melangkah menghampirinya sambil meyakinkan diri bahwa ditempat ini aman. Aku duduk dan langsung menyereput kopi hitam miliknya, tanpa canggung dan rasa malu. Begitulah kami bersikap, layaknya saudara tanpa sekat apa pun. Dia pun seperti itu kepadaku. Bagiku itu merupakan salah satu cara mengikat persaudaraan kami. Selain untuk menghemat tentunya!hehehehe.
Wajahnya breokan dengan kacamata khasnya ditambah topi membuatnya tampil seperti intelek. Mahasiswa UIN jurusan Dakwa ini, kalau diperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut sama sekali tidak menggambarkan mahasiswa Dakwa, kecuali hanya wajahnya saja. Kemana-mana memakai sandal swallow, celana jens biru dengan gantungan merosot yang mengikat pada dompetnya. Namun semua itu hanya tampilan fisiknya saja. Pada banyak kesempatan dalam pendiskusian yang pelik persoalan agama, landasan argumentasinya selalu menggunakan ayat-ayat al-quran dan sunnah nabi. Ini yang membuatku betah dan bergaul bersamanya. Biasanya dia hanya tersenyum jika setelah mengutip ayat al-quran lantas aku mengatakan “Iyye ustads”.
Diatas kuda besi miliknya, kami meluncur meninggalkan warkop. Mengembara di jalan raya berdampingan dengan monster-monster yang setiap saat bisa saja meranggut nyawa. Sudah banyak nyawa yang melayang di jalan raya. Menjadi ketakutan baru buatku, sedikit saja lalai maka akan bertabrakan dan mungkin juga terlindas kalau bukan melindas. Aku duduk di belakang dan Sakmang yang mengemudi. Meski pun ada ketakutan yang terkadang muncul, tapi aku percayakan semuanya kepada Sakmang. Kami sepakat akan singgah terlebih dahulu di toko Agung, baru setelah itu kami lanjutkan menuju MTC.
Sementara aku sibuk mondar-mandir mencari apa yang kucari, Sakmang hanya diam berdiri dan mematung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan mengejak dan tidak setuju caraku. Dia mempertanyakan apa yang aku cari. Setelah dia tahu, langsung bergegas menuju karyawan mempertanyakan letak barang yang aku cari. Sekarang giliran aku yang mengamati aksinya. Sakmang berjalan mendekat kepada karyawati yang tengah asik melayani seorang ibu yang hendak juga membeli sesuatu. Sakmang berdiri tepat sambping Ibu tersebut. Baru saja mau bertanya, tiba saja operator pemantau pengunjung menghimbau pengumuman. “kami sampaikan kepada pengunjung, waspada copet, jangan taruh barang berharga anda pada ranjang belanja anda, waspadai pencurian dan pencopetan”. Aku tertawa terbahak-bahak mendengar itu, seakan itu ditujukan kepada sosok Ibu di sebelah Sakmang. Sepertinya operator melihat wajah Sakmang lebih mirip pelaku criminal. Hahahaha
Kemudia kami berjalan kea rah yang ditunjukkan oleh karyawti. Setiba di sana ada beberpa Ibu-ibu bersama anaknya tengah mencari sesuatu. Aku taruhan dengan diriku sendiri, jika sampai Sakmang mendekati posisi Ibu-ibu itu lantas operator pemantau kembali menghimbau waspada copet. Maka bisa disimpulkan bahwa Sakmang memang berwajah criminal. Dan betul saja, seperti mengetahui isi hatiku, operator pemantau pengunjung took Agung sekali lagi menyampaikan waspada copet dan pencurian. Hahahaha, dasar sakmang wajah criminal.
Kalau tadi di Toko Agung, kami berdua diawasi layaknya pelaku criminal. Namun di tempat ini keadan terbalik 180 derajat. Di MTC kami berjalan layaknya artis, yang disapa oleh hampir semua orang. Mereka meminta kami berdua untuk singgah dan menanyakan apa yang kami cari. Beberapa wanita penjaga kios handpone tidak segan-segan memanggil kami dengan ucapan “singgakih sayang, cari apaki?, handpon apa yang kicari? Leptop? Atau mauki tukar tambah?”. Waaaah, baru kali ini secara terang-terangan dan didepan umum ada cewek yang memanggilku sayang. Hal ini membuat ku geregettan dan tampil sok gagah dan tebar pesona. Hehehehe
Seluruh penjuru telah  ruangan telah kami telusuri, hasilnya begitu banyak yang kami peroleh kata “sayang” dari pemilik kios. Kesimpulannya, orang-orang disini begitu menyayangi kami berdua. Memperlakukan kami seperti orang terhormat. Tapi tak usah ditelusuri motif panggilan sayangnya. Yang jelas kata sayang yang terlontar dari wanita dan ditujukan kepada kami merupakan kebanggaan tersendiri.
So, teman-teman yang rindu dipanggil sayang, karena terlalu lama ma’jomblo tidak usah khawatir. Jomblo itu bukan berarti tdk ada yang sayang pada kalian. Melainkan hal itu justru membuktikan ketegaran kalian memegang prinsip penuh kesabaran. Silahkan mampir saja dan jalan2 di toko2 handpon seperti MTC, di sana kalian akan diperilakukan seperti raja.                                                                                                          
Makassar, 7 Februari 2016



No comments: