Tuesday, March 15, 2016

Manifestasi Sifat Jamaliah dan Jalaliah Tuhan kepada wanita

Sifat Jamaliah Tuhan merupakan sifat kelembutan Tuhan sedangkan Jalaliah merupakan  sifat keperkasaan Tuhan. Dari kedua sifat inilah lahir sifat-sifat Tuhan lainnya yang disebut dengan asmaul husna.

Antara Jamaliah dan Jalaliah, kedua sifat tersebut telah Tuhan anugerahkan  kepada umat manusia. Sifat jalaliah Tuhan diturunkan kepada  kaum lelaki dan sifa jamaliah Tuhan diturunkan kepada kaum wanita. Itulah sebabnya salah satu tujuan pernikahan adalah untuk menyatukan  kedua sifat Tuhan  yang agung, agar muncul wakil-wakil Tuhan di muka bumi ini.

Hubungan lelaki dan wanita bukanlah hubungan antara sikuat dan silemah, bukan pula antara penindas dan tertindas, akan tetapi  hubungan lelaki dan perempuan adalah hubungan saling melengkapi. 
Artinya antara lelaki dan perempuan di mata tuhan adalah sama , yang membedakan adalah ketaqwaannya.

Argumen yang mengatakan bahwa wanita lahir/ muncul dari tulang rusuk nabi Adam As yang bengkok. Sehingga menggambarkan wanita sebagai sosok yang cenderung bengkok, keras dan susah untuk diluruskan ternyata mitos belaka. Namun ada yang mengatakan bahwa itu bersumber dari hadis dan ada pula yang mengatakannya dari kitab injil. Saya pikir itu perlu diselidiki, jangan sampaim itu merupakan konstrukan belaka dari orang-orang yang tak menginginkan  para wanita mengambil peran banyak  dari sistem kehidupan ini.




Jikalau memang wanita bersumber dari tulang rusuk Adam As, apakah pantas wanita kemudian di sebut sebagai manusia?. Padahal Tuhan berfirman bahwa manusia tercipta  dari tanah. Dalam bukunya “Bunda Fatimah” karya Ali Syariati, Diungkap makna  yang menyangkut derajat wanita dari kisah hidup nabi Muhammad saw. Mengapa anak lelaki  nabi Muhammad saw meninggal pada usianya yang belia? Dan mengapa nabi sangat mencintai sosok anak perempuannya Fatimah As-Zahra, dimana setiap paginya nabi mengucapkan salam sambil  tersenyum ke padanya dan sebelum tidur nabi mendatanginya lalu mengucapkan salam ke padanya? Itu karena nabi menginginkan orang-orang mengikutinya untuk menjunjung dan menghormati wanita. Dimana pada masa itu masyarakat arab yang dulunya dikenal dengan masyarakat jahiliah. Wanita dianggap sebagai beban bagi keluarga, tidak bisa berdagang, berperang dan lain sebagainya. Namun sikap nabi kepada Fatimah begitu menghargai dan memperlakukan penuh cinta kasih kepada sosok wanita. Sebagai umat muslim tentunya perilaku nabi diatas menjadi pesan agar memuliakan wanita.

Lantas bolehkah wanita menjadi pemimpin atau mengambil peran pada rana publik? Kenapa tidak! Jika wanita itu mampu dan pantas jadi pemimpin meskipun yang dipimpinnya adalah lelaki. Kepemimpinan seseorang jangan dilihat dari jenis kelamin, suku, ras, budaya, atau agama. Tapi kelayakan menjadi pemimpin  seharusnya dilihat dari kemampuannya, integritasnya, ilmunya dalam membawa apa yang dipimpinnya.

Namun perlu diketahui bahwa wanita memiliki rana domestik dan rana publik. Rana domestik ini adalah ruang lingkup keluarga  pribadi, di mana wanita memiliki tanggup jawab yang tidak bisa digantikan oleh lelaki, misalnya mendidik anak, dan melayani suami. Sedangkan pada rana publik adalah ruang lingkup masyarakat. Pada rana ini wanita boleh saja perannya digantikan oleh lelaki.

Pada akhirnya hingga kini konstruk-konstruk untuk membuat  wanita terpojok dan memandangnya sebatas objek hiburan belaka semakin marak diteriakkan. Penulis belum mengetahui maksud mereka dan tujuan mereka. Ataukah munkin saja sikonstruk  menyadari bahwa wanita memiliki pengaruh besar dalam menciptakan tatanan masyarakat yang ideal? Mey be
Kantin FIP UNM, 04 Mei 2012

No comments: