Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mustinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan….
(Ebiet G. Ade-Berita Kepada Kawan)
Lirik lagu di atas tersebut menyentakkan diri dari ketertiduranku yang panjang.
Hidup yang tak ada kepastian arahnya. Berdiri dengan bangga seolah-olah bahagia namun di lubuk hati yang terdalam berbisik ”bukan ini yang kuinginkan”. Setiap harinya adalah misi untuk mencari kebahagiaan, apa pun itu asalkan aku merasa senang. Ketika hari itu tidak dapat mencapai misi, maka hatiku pun dilanda kegalauan , menyeruak pada raut muka yang cemberut, kusut bagaikan kemeja yang lusu.
Hidup memang penuh misteri, layaknya teka-teki menunggu untuk dipecahkan. Membingungkan dan tak sedikit manusia yang tersesat dalam perjalanannya guna menjawab teka-teki tersebut. Bagi orang-orang yang mampu menjawab teka-teki tersebut, maka hidup ini ada digemgamannya. Dengan begitu mereka mampu melihat titik kebahagiaan dan derita sesungguhnya. Dan sudah menjadi fitrahnya manusia bergerak menuju kebahagiaan itu.
Kebahagiaan bagaiakan rentetan anak-anak tangga yang menjulang ke langit luas, tak nampak ujungnya. Manusia kemudian menaiki tahapan demi tahapan. Ada yang dalam keadaan mata terbuka dan ada pula yang menaiki dengan mata tertutup dan terikat kain.
Aku tersenyum malu menyaksikan manusia yang menaiki tahapan tangga tersebut dengan mata yang tertutup oleh kain. Berhenti pada tahapan tangga ke 9, lalu berteriak menyampaikan kepada orang lainnya “ Aku sudah mencapai puncak kebahagiaan…”.
Anto Sarro (Penyanyi daerah Sul-Sel) yang mendengar teriakan tersebut dan dia adalah orang yang menaiki tahapan tangga dengan mata terbuka dan telinga yang mendengar, menoleh kebelakan ke sumber suara. Lalu tersenyum dan melontarkan lirik lagu padanya;
“…nuanggap tommi kalennu rate mako
anjo tuka nuambika, nutepokmi…”
(Anto Sarro- Tuka Tepok)
Bagi Anto Sarro, tahapan tangga ini tidak ada ujungnya, semakin tinggi tahapan tangga tempat kita berpijak semakin tinggi pula kapasitas kebahagiaanya. Dan dia terus melangkah tahapan demi tahapan bagaikan pengembara yang tak kenal rasa puas. Dia adalah sosok yang telah memecahkan teka teki kehidupan.
***
Lalu aku teringat pada perjalannaku menuju Bantaeng beberapa hari yang lalu. Seorang diri mengunjungin kerabat yang mengundangku di acara hajatan. Ini pertama kalinya aku ke Bantaeng. Meski pun kekhawatiran melanda dan berujung pada ketersesatan dan tak kunjung sampai-sampai berjumpa kerabat lama yang menantikan kehadiranku.
Dengan bermodalkan alamat via pesan singkat (sms) aku melaju menembus dinginnya pagi. Meninggalkan kebahagiaan ku selama ini dengan orang-orang sekitar. Menuju pada kawan lama yang aku rindukan dan kupastikan perjumpaan dengannya merupakan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaanku saat ini.
Dalam perjalananku, yang ada dipikiranku adalah “Bantaeng…Bantaeng…Bantaeng” tak perna putus. Setiap kali melihat gapura yang membatasi daerah satu dengan daerah lainnya, ku pelankan laju motorku burasaha membaca dan menjawab pertanyaan hatiku” Inikah daerah Bantaeng?”.
Dari sekian gapura yang terlewati hingga akhirnya aku menemukan gapura yang bertuliskan “ Selamat Datang Ri Butta Toa Bantaeng”. Hatiku berdebar semakin kencang, kurasakan aromah tubuhnya membuatku semakin melaju. Aku terus melaju dengan sepada motorku, kusaksikan kota Bantaeng dengan pemandangan yang memukau. Tanpa kusadari kecepatan motorku menurun.
Rentetan gunung yang indah dengan bias cahaya matahari menyempurnakan keindahannya. Gazebo-gazebo berjejeran di pinggir jalan menghadap ke laut lepas menjadi tempat ideal tonkrongan pemuda-pemuda menikmati indahnya lautan. Aku berhenti pada salah satu gazebo, duduk sendiri sambil menghisap sebatang rokok menikmati pemandangan laut dengan iringan suara lalu lalang kendaraan berpadu dengan gemuru ombak dan hembusan angin. Menimbulkan perasaan yang lain. Menyentuh lubuk hatiku. Merupakan kebahagiaan yang sulit aku bahasakan.
Mengapa aku baru merasakan hal ini? Mengapa aku berada di sini?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlintas dalam benakku. Membuatku tersadar bukan ini tujuanku. Aku yakin bahwa kebahagiaan yang lebih menantiku di sana. Lalu kulanjutkan perjalananku. Aku telah diberikan panduan menujuhya, panduan itu tak henti-hentinya aku baca layaknya kitab suci yang memandu umat manusia menuju jalan kebenaran. Aku berhenti untuk membacah panduanku. Disana tertulis “…pada pertigaan pertama, belok kiri lalu kamu akan melewati jembatan Shalat, sebrangi jembatan itu!”.
Aku mengikuti perintah tersebut dan sampai pada jembatan yang dimaksud. Aku berhenti memperhatikan jembatan yang dimaksudnya. Jembatan yang kondisinya sedikit menegangkan. Ada banyak lubang di sana sini. Siap melahap orang-orang yang lalai, menjatuhkan mereka ke dasar sungai.
Kusaksikan orang-orang menggunakan caranya masing-masing. Ada yang turun dari motornya kemudian mendorongnya dengan hati-hati menyebrangi jembatan tersebut. Ada yang menyimpan motornya dan memilih jalan kaki dan ada pula dengan berani menyebrang begitu saja dengan sikap santai di atas laju motornya.
Begitu pun dengan jembatan shalat yang kulihat. Orang –orang memiliki cara yang berbeda beda menempunya. Ada orang dengan sikap bersedekap dan ada orang dengan sikap siap. Perbedaan ini tidak seharusnya dipersoalkan karena bukan itu tujuannya. Tujuan kita adalah meyebrangi jembatan tersebut dengan selamat yang kemudian nantinya akan mengantarkan kita pada tujuan Akhir; Yakni Tuhan.
Pakjukukang, 24 Oktober 2015
Herry Sitakka
No comments:
Post a Comment