Baru saja Ulil keluar dari lift gedung Phinisi UNM, di lantai 2 tepatnya, terus menuju ruang Mushallah hendak laksanakan kebutuhannya yakni shalat dzuhur. Disebutnya sebagai kebutuhan sebab manusia sebagai hamba Allah, mereka melaksanakan shalat ataupun tidak sama sekali tidak memberikan efek kepada Sang Pencipta. Malahan yang terjadi ketika manusia melaksanakan shalat mereka akan terhindar dari perbuatan munkar. Dengan langkah tenang namun pasti, mengamati sekeliling. Di pojok ruangan itu tampak sepasang mahasiswa tengah asik berdiskusi, bercenkrama, duduk melantai membincang sesuatu yang mempersatukan mereka, sesekali menatap keluar jendela mengamati mahasiswa lalu-lalang di pelataran Phinisi. Mereka begitu asik saling mengutarakan dan mendengarkan pendapat satu sama lain sambil sesekali membuka lembaran-lembaran buku pada tangannya. Ulil menarik nafas yang dalam, seakan melihat udara disekelilingnya yang dipenuhi dengan wacana keilmuan, menyerapnya, mencoba untuk merasakan aroma keilmuan itu.Pada pojok yang lain, duduk beberapa mahasiswa semester akhir di kursi antrian, menunggu giliran nama mereka dipanggil. Mereka adalah mahasiswa yang mengurus transkip nilai mata kuliah. Mereka duduk dengan rapi dalam penantian. Ada yang menanti sambil membaca bukunya. Dengan sampul buku tertulis “Mengenal Pemikiran Marx”. Di sebelahnya asik membaca lembaran-lembaran koran harian Tribun-timur, terkadang menganggukkan kepala dan terkadang menggeleng-geleng. Di sampingnya lagi asik memainkan handpon, jemarinya menari-nari tanpa irama dan seketika itu bibirnya tersungging lebar, terkadang tertawa terbahak-bahak yang ditahan, dan terkadang pula menghasilkan raut muka kekecewaan. Sebuah tarian jemari di atas handpone yang begitu megic.
Dengan sikapnya yang has, tenang dan penuh percaya diri, terus berjalan di hadapan mahasiswa-mahasiswa yang duduk dalam penantian menunggu giliran. Tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggil-manggil namanya, ia pun menoleh dan menengok masuk kedalam ruangan pengambilan transkip nilai, memastikan suara itu tidak bersumber dari dalam sana. Lalu menengok kebelakang mencari pemilik suara yang memanggil namanya. Dari kejauhan sambil berlari dilihatnya sahabatnya itu berlarian menghampiri dirinya. Dialah Erick, teman diskusi Ulil. Sembil mengatur irama nafas yang tidak karuan dengan sisa-sisa nafasnya, berusaha hendak menyampaikan informasi kepada Ulil. Sepertinya informasi yang amat penting.
“Kamu ini kenapa?” tanya Ulil kepada kawannya itu. “Seperti orang keserupan saja” lanjut Ulil. Erick masih terus saja menarik nafas lalu menghembuskan kembali, terus dilakukannya sampai beberapa kali, mengabaikan pertanyaan kawannya. Erick mulai bangkit dari posisinya yang ngangkang, tangan kiri bertumpuh pada lutut kirinya dan tangan kanan memegang secarik kertas yang bertumpu pada pundak Ulil, berdiri sambil menatatap secarik kertas di tangannya hendak memperlihatkan kepada Ulil.
“Kamu sudah...” belum sempat menyelesaikan perkataan Erick. Ulil langsung memotongnya, “Kamu uda Sholat belum?”. Erick menggelengkan kepalanya dengan mulut terbuka dan secarik kertas yang terjulur di hadapannya hendak diperlihatkan kepada Ulil. “Ya udah kita Shalat aja dulu, kurasa ini lebih penting dari apa yang kamu hendak bicarakan”. Ulil merangkul kawannya menuntun ke tempat wudhu lalu masuk ke Mushallah. Lalu ulil memimpin shalat. “Allaaaahuu Akbar”ucap takbir Ulil yang kemudian segera diikuti oleh Erick.
Ulil merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan di Universitas Negeri Makassar. Suatu ketika Ulil dan Erik datang sedikit terlambat memasuki ruang kuliah. Waktu itu Prof. Amir mendapat giliran jadwal masuk untuk memberi sajian keilmuan siang ini. Prof. Amir dengan mata kuliah statistic, dikenal pada kalangan mahasiswa dengan sebutan dosen “Killer”. Ke-killer-annya Prof. Amir juga tak pandang bulu. Baru saja Ulil dan Adit melangkahkan kakinya masuk ke ruang kuliah, baru beberapa langkah. “Hmmm…hmmm...hmmm” dehem Prof. Amir di meja dosen sambil memeriksa daftar hadir mahasiswanya. Kacamata minus-nya melorot ke bawah hingga pangkal cabang hidungnya. Sesekali melirik pada mahasiswa yang baru saja masuk. Ulil dan Adit tidak menyadari hal itu, mereka tetap saja melangkah menuju kursi kosong dipojok ruangan. Beberapa teman sekelasnya berteriak sambil berbisik mengingatkan Ulil dan Erik. “Sssst…sssst” kode rahasiah Umi, dengan bibir monyong dan bolah mata yang bergerak dari kiri ke kanan, ke arah Ulil menuju arah Prof. Amir. Ulil mengamati tingka kawan perempuannya yang satu ini. Ulil bukannya langsung melirik ke Prof Amir, akan tetapi Ulil yang masi dalam berdiri terus mengamati tingkah Umi.
Senyum tersungging lebar di pipi Ulil. Tingkahnya mengabaikan teman-teman lainnya, termasuk dosen. Pandangan Ulil terpaku pada Umi, bagaikan maghnet kutub utara dan selatan yang diperhadapkan. Ulil menghilangkan teman-teman kuliahnya dosen pun ikut. Sekarang hanya ada Ulil yang menatap bibir monyong Umi yang membuat Ulil geregetan. Dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan ekspresi itu. Erik yang dari tadi sudah duduk dengan buku dan penah di atas meja lipatnya melempari Ulil tepat di kepalnya dengan gulungan kertas yang disobek dari bukunya. Erik dan teman lainnya menyadari Prof. Amir yang memperhatikan tingkah Ulil yang masih berdiri. Ulil tersentak lalu bergegas menuju kursi sebelah Adiyat, mengeluarkan buku dan penanya.
“Kreeeek” suara gesekan kaki kursi dan lantai. Prof. Amir berdiri dan berjalan ke hadapan mejanya. “tak…tuk…tak…tuk…tak…tuk” suara hempasan sepatunya menggemah dalam ruangan kelas. “Baik, kita akan memulai pelajarannya, tapi sebelumnya…” ucap dosen membuka percakapan sambil melangkah berpindah tempat menuju tempatnya semula, mengambil sesuatu di dalam tasnya. “Saya ingin terlebih dahulu mempertegas aturan Dekan perihal kewajiban mahasiswa menggunakan pakain hitam-putih bagi mahasiswa jurusan pendidikan” lanjutnya sambil memperlihatkan secarik kertas, tepatnya Surat Keputusan Dekan.
Seluruh isi ruangan merespon santai, kecuali Erik yang menepis jidatnya sambil berucap “bodoh sekali aku ini, mengikuti saranmu Ulil”. “Santai aja Bro” balas Ulil mendengar ucapan kawannya yang lagi ketakutan.
“Jadi saya minta kepada mahasiswa yang merasa melanggar aturan ini silahkan tutup pintu dari luar!. Sebelum saya sendiri yang menyebutkan namanya” Tegas Prof. Amir kepada mahasiswanya.
Semua mata dalam ruangan itu tertuju pada Ulil dan Erik, seakan-akan mereka memberi ucapan selamat tinggal, sampai ketemua di luar.
Erik baru saja hendak berdiri, namun Ulil menahannya. Sambil berbisik kepada kawannya “tenang saja bro, sekarang giliran kita permainkan Prof. imitasi ini” lalu berdiri mengacungkan tangan hendak mengajukan pertanyaan. Erik yang duduk di samping Ulil makin keranjingan.
“Aturan ini diberlakukan kepada kami mahasiswa, dan ini sama sekali tidak melibatkan kami dalam membuat aturan ini. Boleh saya mendapat penjelasan mengenanai aturan ini perihal dampaknya kepada kami? Sebab yang kami lihat adalah justru memberikan beban baru kepada kami harus membeli baju baru dan celana baru.” Tanya Ulil memancing pendiskusian
Beberapa temannya sepakat dan ikut menganggukkan kepala petanda setuju dengan pernyataan Ulil. Namun beberapa lainnya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum meremehkan, dan mengannggap sebuah pertanyan yang bodoh.
“Jadi begini, sebagai mahasiswa pendidikan harusnya menggambarkan orang yang berpendidikan. Dan salah satu kiriteria orang terdidik itu menggunakan pakaian yang rapi. Sehingga Pak Dekan kalian memutuskan kebijakan sebagai cerminan kependidikan bagi mahasiswa jurusan Pendidikan” Jelasnya Prof. Amir dengan semangat.
Erik berdiri secara refleks dan berbicara, “ Berarti bapak sendiri tidak termasuk orang yang terdidik donk!. Soalnya bapak tidak menggunakan pakaian hitam-putih”. Ruang kelas tibah-tibah menjadi riuh dan gaduh dengan suara tawa diikuti anggkukan kepala dari teman-temannya.
Raut wajah Prof. seketika berubah memerah padam, diatas kepalanya muncul sedikit asap tipis menandakan naik pitam mendengar ucapan Erik. “Pokoknya kalian harus taati sebab ini adalah aturan kampus, dan aturan hadir untuk ditaati bukan untuk dilanggar. Jika ingin menggugat silahkan berdiskusi dengan si pembuat aturan” Ucap Prof meneyelesaikan diskusi pembuka. “Dan kalian berdua…, iya kalian! Minta tolong tutup pintu kelas dari luar.” Tegas Prof. sambil menunjuk kearah Ulil dan Erik.
Ruangan pun seketika menjadi hening, diam membisu seribu bahasa. Tak jelas maknanya. Kawan yang tadinya tertawa dan mengangguk bersama tak merespon mengambil sikap. Ulil memancarkan pandangannya keseluruh penjuru isi ruangan. Pandangan yang terhenti pada wajah Umi.
No comments:
Post a Comment